Okepost.id, Jakarta – Rusia mulai melakukan aksi jual cadangan emas dalam jumlah besar di tengah tekanan ekonomi akibat perang Ukraina, sanksi internasional, dan melemahnya pendapatan energi. Langkah tersebut menjadi perhatian pasar global karena selama bertahun-tahun Rusia dikenal agresif menambah cadangan emas untuk memperkuat devisa negara.
Data terbaru Bank Sentral Rusia menunjukkan cadangan emas negara itu turun menjadi 73,9 juta ons troi per 1 Mei 2026. Dalam satu bulan terakhir, Rusia tercatat melepas sekitar 200 ribu ons emas ke pasar.
Jika dihitung sejak awal tahun, total cadangan emas Rusia menyusut sekitar 900 ribu ons atau setara 27,9 ton. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 2002 sekaligus membawa posisi cadangan emas Rusia ke level terendah sejak Maret 2022.
Langkah Rusia menjual emas dinilai berkaitan erat dengan meningkatnya tekanan fiskal akibat perang Ukraina yang belum mereda. Pendapatan negara dari sektor minyak dan gas juga terus melemah akibat sanksi ekonomi Barat dan penurunan permintaan global.
Analis Freedom Finance Global, Natalia Milchakova, menyebut penjualan emas dilakukan untuk membantu menutup defisit anggaran pemerintah Rusia yang mencapai 4,6 triliun rubel hingga akhir Maret 2026.
Menurutnya, tanpa dukungan tambahan dari bank sentral, defisit anggaran Rusia berpotensi menembus lebih dari 5 triliun rubel tahun ini.
Selain untuk menopang fiskal negara, Rusia juga disebut mulai meningkatkan cadangan devisa dalam mata uang asing, terutama yuan China, seiring melemahnya pemasukan ekspor energi pada awal tahun.
Permintaan Emas di Rusia Melonjak Tajam
Di tengah penjualan cadangan emas oleh pemerintah, permintaan emas domestik di Rusia justru meningkat signifikan. Data Moscow Exchange menunjukkan volume transaksi emas pada April 2026 melonjak lebih dari 350 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 42,6 ton.
Nilai transaksi emas dalam mata uang rubel bahkan melesat hampir 500 persen menjadi 534,4 miliar rubel atau setara sekitar US$7,1 miliar.
Analis Finam, Nikolai Dudchenko, menilai tren penjualan emas kini mulai dilakukan banyak negara berkembang untuk membiayai kebutuhan fiskal, pengeluaran pertahanan, hingga menjaga stabilitas mata uang domestik.
Harga Emas Dunia Masih Bertahan Tinggi
Meski cadangan emas Rusia menyusut, nilai total kepemilikan emas negara tersebut justru meningkat berkat reli harga emas global sepanjang tahun ini.
Pada Januari 2026, nilai cadangan emas Rusia tercatat naik 23 persen menjadi US$402,7 miliar setelah harga emas dunia sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.
Saat ini, harga emas global masih bergerak di level tinggi. Harga emas tercatat menguat tipis 0,09 persen ke posisi US$4.573,95 per ons troi.
Dalam sebulan terakhir, harga emas memang terkoreksi sekitar 2,26 persen. Namun, secara tahunan harga logam mulia tersebut masih melonjak 36,78 persen.
Sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi atau all time high (ATH) di level US$5.608,35 per ons troi pada Januari 2026.
Ekspor Emas Rusia ke China Meningkat
Di sisi lain, ekspor emas Rusia ke China juga terus meningkat. Laporan Bloomberg sebelumnya menyebut pengiriman logam mulia Rusia ke China hampir melonjak dua kali lipat sepanjang semester I-2025.
Rusia saat ini masih menjadi produsen emas terbesar kedua di dunia setelah China dengan kapasitas produksi tahunan di atas 300 ton.
Sementara itu, permintaan emas ritel di Rusia juga mencetak rekor tertinggi sepanjang 2024. Konsumen domestik membeli sekitar 75,6 ton emas atau setara seperempat dari total produksi emas nasional Rusia. (Pro)









