Rupiah Melemah ke Rp17.891 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekan Pasar

Keuangan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (2/6/2026).

Meskipun sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, tekanan dari ketidakpastian geopolitik global dan arah kebijakan moneter AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan.

Pada penutupan perdagangan Senin (1/6/2026), rupiah berhasil menguat 76 poin dan berakhir di level Rp17.805 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.880 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah sempat mencapai 95 poin sebelum akhirnya ditutup menguat 76 poin. Namun, menurutnya, ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pasar global masih dibayangi sejumlah risiko eksternal.

“Pergerakan rupiah berpotensi berfluktuasi dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS,” ujarnya.

Konflik Timur Tengah Kembali Membebani Pasar

Pelaku pasar global saat ini terus memantau perkembangan negosiasi gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran.

Hingga kini, pembicaraan kedua negara belum menghasilkan kesepakatan yang mampu meredakan ketegangan secara menyeluruh.

Meski terdapat pembahasan mengenai perpanjangan gencatan senjata sementara dan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sejumlah persoalan utama masih belum terselesaikan.

Kondisi tersebut semakin diperumit oleh kekhawatiran mengenai potensi ancaman keamanan di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Jalur ini menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global.

Baca Juga :  IHSG Melemah Jelang Bursa Libur Panjang Mei 2026

Ketidakpastian di kawasan tersebut berpotensi menghambat pemulihan pasokan energi dunia. Dampaknya, harga minyak mentah kembali mengalami kenaikan yang dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Selain itu, meningkatnya aktivitas militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon turut memperbesar risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini membuat investor cenderung berhati-hati dan mencari aset yang dianggap lebih aman.

Investor Menunggu Keputusan The Fed

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perhatian pasar kini tertuju pada langkah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Sebelumnya, pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar pada tahun ini. Namun kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik membuat ekspektasi tersebut mulai berubah.

Investor saat ini menunggu pidato sejumlah pejabat Federal Reserve serta rilis data ekonomi AS, khususnya data pasar tenaga kerja. Hasil data tersebut akan menjadi acuan penting untuk melihat arah kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Jika inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, peluang pemangkasan suku bunga berpotensi tertunda. Kondisi itu dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kebijakan DHE Berpotensi Menopang Rupiah

Dari dalam negeri, pemerintah menghadirkan sentimen positif melalui penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 tentang perubahan ketiga atas PP Nomor 36 Tahun 2023 mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) sektor sumber daya alam.

Baca Juga :  Revisi UU P2SK 2026 Perluas Wewenang OJK, Aset Kripto hingga Bursa Mineral Bakal Diawasi Ketat

Aturan yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026 tersebut mewajibkan eksportir sumber daya alam untuk menempatkan devisa hasil ekspornya di dalam negeri.

Untuk sektor nonmigas, eksportir diwajibkan menyimpan 100 persen DHE pada rekening khusus di perbankan nasional selama minimal 12 bulan. Sementara itu, eksportir migas wajib menempatkan sedikitnya 30 persen DHE selama tiga bulan.

Pemerintah juga membatasi konversi valuta asing DHE ke rupiah maksimal lima persen.

Kebijakan ini diyakini dapat meningkatkan pasokan devisa di pasar domestik, memperkuat likuiditas valuta asing, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah dan panjang.

Rupiah Dibuka di Zona Merah

Meski mencatat penguatan pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah memulai perdagangan Selasa pagi dengan pelemahan.

Pada pukul 09.12 WIB, rupiah tercatat turun 0,49 persen ke level Rp17.891 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih merespons berbagai sentimen global yang berkembang, terutama terkait konflik Timur Tengah dan prospek kebijakan suku bunga AS.

Analis memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan hingga terdapat kepastian mengenai perkembangan geopolitik maupun arah kebijakan moneter global.(Pro)

Berita Terkait

Dolar AS Sentuh Rp18.000, Ini Faktor yang Menekan Rupiah
Revisi UU P2SK 2026 Perluas Wewenang OJK, Aset Kripto hingga Bursa Mineral Bakal Diawasi Ketat
Harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian Kamis pagi turun, Antam stabil
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah Lagi, Dolar AS Berpotensi Dekati Rp17.900
Rupiah Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.800–Rp17.950
Bancassurance Masih Jadi Tulang Punggung Premi Asuransi Jiwa, OJK Ungkap Kontribusi Tembus 40,4%
Rupiah Diprediksi Sentuh 18.000 terhadap Dolar AS Hari Ini 29 Mei 2026
Mata Uang Rupiah Terus Jeblok, Dolar AS Naik ke Level Rp17.768
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:28 WIB

Dolar AS Sentuh Rp18.000, Ini Faktor yang Menekan Rupiah

Kamis, 4 Juni 2026 - 17:38 WIB

Revisi UU P2SK 2026 Perluas Wewenang OJK, Aset Kripto hingga Bursa Mineral Bakal Diawasi Ketat

Kamis, 4 Juni 2026 - 08:16 WIB

Harga emas UBS-Galeri24 di Pegadaian Kamis pagi turun, Antam stabil

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:23 WIB

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah Lagi, Dolar AS Berpotensi Dekati Rp17.900

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:11 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.891 per Dolar AS, Ini Faktor yang Menekan Pasar

Berita Terbaru

Otomotif

Citroen C3 Two Tone Tahun 2026: Sekarang Dijual Segini

Sabtu, 6 Jun 2026 - 08:05 WIB

Artikel

Buah yang Bagus untuk Otak Anak: Bikin Makin Pintar !

Jumat, 5 Jun 2026 - 09:57 WIB