Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Meski kondisi domestik mulai menunjukkan perbaikan, lonjakan harga minyak dunia diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11 persen ke level Rp17.936 per dolar AS pada Kamis (23/7/2026). Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.917 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI) juga mencatat pelemahan ke level Rp17.915 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan sentimen dari dalam negeri sebenarnya mulai membaik. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia masih menjadi risiko utama yang dapat menekan rupiah.
Menurutnya, selama harga minyak terus meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berpotensi berlanjut.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Jumat.
Pada perdagangan sebelumnya, pelemahan rupiah dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang mendekati US$100 per barel. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan kebutuhan impor energi, sehingga mendorong penguatan dolar AS.
Ia juga menilai minimnya agenda rilis data ekonomi penting dalam waktu dekat membuat perhatian investor beralih pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik di kawasan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan mendorong harga minyak tetap tinggi.
Apabila harga minyak terus bertahan di level tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.(Pro)









