Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada awal perdagangan Senin (8/6/2026). Aksi jual yang masih mendominasi pasar membuat indeks langsung terperosok ke level 5.390,89 atau turun 3,64 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG kehilangan 203,86 poin hingga pukul 09.02 WIB. Sepanjang sesi pembukaan, indeks bergerak di kisaran 5.370,32 hingga 5.490,11.
Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif pasar modal Indonesia yang dalam sepekan terakhir menjadi sorotan investor. Dominasi tekanan jual terlihat dari banyaknya saham yang terkoreksi dibandingkan saham yang menguat.
Tercatat hanya 61 saham yang berhasil naik, sementara 503 saham melemah dan 119 saham bergerak stagnan. Di saat yang sama, kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp9.482,47 triliun.
Saham Big Caps Menjadi Penyumbang Utama Koreksi IHSG
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin pelemahan dengan penurunan 7,80 persen ke level Rp3.310 per saham. Tekanan juga terjadi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang turun 6,08 persen menjadi Rp3.090.
Sementara itu, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terkoreksi 5,43 persen ke level Rp2.610.
Koreksi juga menimpa saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) yang turun 4,31 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 4,10 persen, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang melemah 3,74 persen.
Besarnya tekanan pada saham-saham unggulan menunjukkan investor masih melakukan aksi jual untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian pasar.
MNC Sekuritas Prediksi IHSG Masih Rentan Melanjutkan Penurunan
Tim riset MNC Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih berada dalam tren bearish setelah indeks mencatat penurunan signifikan pada perdagangan sebelumnya.
Pada penutupan pekan lalu, IHSG turun 4,20 persen ke level 5.594. Dalam kurun satu minggu, indeks bahkan terkoreksi hingga 8,69 persen dengan peningkatan volume distribusi yang menunjukkan tingginya aktivitas jual.
Secara teknikal, analis menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase penurunan lanjutan atau downtrend.
MNC Sekuritas memperkirakan indeks berpotensi menguji area support di rentang 5.395 hingga 5.412. Level tersebut dinilai penting karena menjadi area penutupan gap sekaligus berdekatan dengan garis rata-rata pergerakan jangka panjang atau MA200 bulanan.
Jika tekanan jual terus berlanjut, pasar berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
IHSG Catat Koreksi Terdalam Dibanding Bursa Global
Berdasarkan statistik mingguan BEI untuk periode 2 hingga 5 Juni 2026, IHSG merosot 8,69 persen dari level 6.127,38 menjadi 5.594,76.
Penurunan tersebut juga memangkas kapitalisasi pasar bursa sebesar 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun.
Kinerja ini menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks saham dengan koreksi terdalam di dunia dalam sepekan terakhir.
Sebagai perbandingan, Tel Aviv 35 Index di Israel turun 4,26 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan melemah 3,72 persen.
Indeks lainnya mengalami tekanan yang lebih ringan. SSE Composite China turun 1 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 0,88 persen, dan S&P BSE Sensex India terkoreksi 0,73 persen.
Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru menunjukkan performa positif. Dow Jones Industrial Average menguat 1,04 persen selama periode yang sama.
Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar
Pelemahan tajam IHSG menunjukkan sentimen pasar masih sangat rapuh. Investor kini menunggu berbagai katalis baru yang dapat mengembalikan kepercayaan pasar, termasuk perkembangan ekonomi global, arus dana asing, serta kondisi fundamental emiten besar.
Selama tekanan jual belum mereda, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.(Pro)









