Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat performa terburuk di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik sepanjang perdagangan 11—13 Mei 2026. Meski demikian, tekanan akibat rebalancing indeks MSCI dinilai mulai mereda dan membuka peluang terjadinya rebound dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Global Index Comparison, IHSG ditutup melemah 3,53 persen ke level 6.723,32. Koreksi tajam ini berbanding terbalik dengan pergerakan bursa negara ASEAN lainnya yang justru menguat pada periode yang sama.
Singapore Straits Times Index (STI) tercatat naik 1,67 persen, sedangkan Thailand SET Index menguat 1,13 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan di pasar domestik lebih dipengaruhi sentimen lokal, terutama hasil evaluasi indeks MSCI Mei 2026 yang menyebabkan 18 saham Indonesia keluar dari indeks global secara neto.
Pelemahan IHSG juga terlihat paling mencolok dibandingkan bursa utama Asia Pasifik lainnya. Bursa Korea Selatan melalui indeks KOSPI melonjak 4,61 persen, sementara indeks China SSE Composite dan Jepang Nikkei 225 masing-masing naik 1,50 persen dan 0,89 persen.
Meski tekanan jual masih membayangi, sejumlah analis menilai dampak rebalancing MSCI mulai mendekati titik jenuh. Keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global justru dinilai dapat memicu rotasi modal asing ke saham-saham dengan fundamental dan tata kelola yang lebih kuat.
Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut kekhawatiran pasar terhadap potensi eksodus modal asing kini mulai mereda. Pasalnya, estimasi arus keluar (outflow) dana asing diperkirakan jauh lebih rendah dibanding proyeksi awal.
Sebelumnya, pasar sempat dihantui potensi outflow di atas Rp50 triliun. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan arus keluar berada di kisaran Rp27,8 triliun hingga Rp34,7 triliun.
“Tekanan MSCI kelihatannya menyeramkan di permukaan, namun dampak riilnya kemungkinan tidak seburuk headline yang beredar,” tulis riset Kiwoom Sekuritas Indonesia yang dikutip Sabtu (16/5/2026).
Di sisi lain, keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI diperkirakan akan meningkatkan bobot relatif saham-saham blue chip dan perbankan jumbo di pasar domestik. Kondisi ini membuka peluang masuknya kembali likuiditas asing ke emiten dengan profil fundamental dan likuiditas yang lebih sehat.
Beberapa saham yang dinilai berpotensi menjadi tujuan rotasi dana asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).
“Secara global, banyak saham yang keluar dari indeks MSCI kali ini. Namun bagi pasar domestik, hal ini justru berpotensi mengarahkan kembali minat asing ke saham-saham perbankan raksasa kita,” tulis riset tersebut.
Secara teknikal, IHSG sempat menyentuh level terendah tahun ini di posisi 6.762. Namun pelaku pasar mulai melihat peluang stabilisasi tekanan jual. Jika IHSG mampu menembus area resistance di kisaran 6.980 hingga 7.015, maka peluang rebound menuju zona hijau diperkirakan semakin terbuka.(Pro)









