KIJA Keluar dari Indeks IDX Sharia Growth, Jababeka Pastikan Fundamental Perusahaan Tetap Kuat

Manajemen Tegaskan Penghapusan dari IDXSHAGROW Hanya Hasil Evaluasi Berkala BEI, Bukan Cerminan Kinerja Perusahaan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Founder & Direktur Utama PT Jababeka Tbk. (KIJA) Setyono Djuandi Darmono (kanan) didampingi Wakil Direktur Utama Budianto Liman

Founder & Direktur Utama PT Jababeka Tbk. (KIJA) Setyono Djuandi Darmono (kanan) didampingi Wakil Direktur Utama Budianto Liman

Okepost.id, Jakarta – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menegaskan bahwa keluarnya saham perseroan dari indeks IDX Sharia Growth (IDXSHAGROW) tidak berkaitan dengan penurunan kinerja bisnis maupun memburuknya kondisi keuangan perusahaan.

Manajemen Jababeka menyatakan perubahan status tersebut merupakan bagian dari evaluasi rutin yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) berdasarkan metodologi dan kriteria yang berlaku dalam peninjauan indeks syariah.

Sekretaris Perusahaan KIJA, Muljadi Suganda, menjelaskan bahwa IDXSHAGROW berisi 30 saham syariah yang dipilih berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan dibandingkan harga saham, tingkat likuiditas perdagangan, hingga rasio keuangan tertentu.

Menurutnya, perubahan komposisi indeks dilakukan secara berkala melalui proses pemeringkatan yang mempertimbangkan posisi relatif setiap emiten dibandingkan perusahaan lain dalam periode evaluasi yang sama.

“Perubahan keanggotaan indeks lebih mencerminkan hasil penilaian relatif terhadap emiten lainnya pada saat review berlangsung,” ujar Muljadi, Kamis (4/6/2026).

Meski tidak lagi masuk dalam IDXSHAGROW, KIJA tetap tercatat sebagai konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Baca Juga :  Penghapusan Saham dari MSCI Buka Peluang Dana Asing Masuk ke Blue Chip Perbankan

Selain itu, saham perseroan masih memenuhi seluruh kriteria efek syariah yang ditetapkan dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Muljadi menegaskan fokus utama perusahaan saat ini adalah memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan profitabilitas, mendorong pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham.

Sementara itu, Founder Jababeka, SD Darmono, juga menegaskan bahwa keluarnya KIJA dari indeks syariah tertentu tidak dapat dijadikan indikator bahwa kondisi perusahaan sedang memburuk.

Ia menilai perubahan metodologi dan semakin ketatnya standar penilaian indeks menyebabkan sejumlah emiten harus mengalami penyesuaian klasifikasi.

“Kami menghormati keputusan tersebut dan akan terus melakukan evaluasi terhadap struktur bisnis maupun pembiayaan perusahaan,” kata Darmono.

Darmono juga menanggapi isu mengenai kelengkapan data Environmental, Social, and Governance (ESG) yang masih menjadi perhatian dalam sejumlah sistem pemeringkatan global.

Baca Juga :  IHSG Diproyeksi Uji Level 6.484, PTBA dan BBRI Menguat Saat Indeks Bisnis-27 Melemah

Menurutnya, Jababeka terus melakukan penyempurnaan pelaporan dan pelengkapan data agar sesuai dengan standar terbaru yang diterapkan BEI.

“Transparansi adalah proses yang terus kami perbaiki,” ujarnya.

Dalam evaluasi mayor indeks syariah untuk periode Juni hingga November 2026, BEI mengumumkan delapan saham yang dikeluarkan dari perhitungan IDX Sharia Growth dan perubahan tersebut mulai berlaku efektif sejak 2 Juni 2026.

Selain KIJA, saham yang keluar dari IDXSHAGROW meliputi PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), serta PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK).

Meskipun demikian, manajemen Jababeka menegaskan bahwa perseroan tetap mempertahankan status sebagai emiten syariah dan terus menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang untuk memperkuat daya saing perusahaan di masa depan.(Pro)

Berita Terkait

IHSG Diprediksi Lanjut Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan 4 Saham Potensial Hari Ini
IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham BMRI, BUMI hingga MEDC
IHSG Dibuka Merosot ke 5.878, Saham BMRI, BYAN hingga AMMN Kompak Terkoreksi
IHSG Diprediksi Uji Level 6.484 Hari Ini, Saham BREN hingga BBCA Jadi Penggerak Utama
IHSG Diproyeksi Uji Level 6.484, PTBA dan BBRI Menguat Saat Indeks Bisnis-27 Melemah
FTSE Russell Tambah 4 Saham Indonesia Keluar dari Indeks Global Juni 2026
Saham TCPI Masuk Daftar HSC BEI, FTSE Russell Siap Keluarkan Emiten Berkonsentrasi Tinggi dari Indeks
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama, Pasar Saham dan Kripto Hadapi Tekanan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:57 WIB

IHSG Diprediksi Lanjut Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan 4 Saham Potensial Hari Ini

Jumat, 5 Juni 2026 - 08:45 WIB

KIJA Keluar dari Indeks IDX Sharia Growth, Jababeka Pastikan Fundamental Perusahaan Tetap Kuat

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:57 WIB

IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham BMRI, BUMI hingga MEDC

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:39 WIB

IHSG Dibuka Merosot ke 5.878, Saham BMRI, BYAN hingga AMMN Kompak Terkoreksi

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:09 WIB

IHSG Diprediksi Uji Level 6.484 Hari Ini, Saham BREN hingga BBCA Jadi Penggerak Utama

Berita Terbaru

Artikel

Buah yang Bagus untuk Otak Anak: Bikin Makin Pintar !

Jumat, 5 Jun 2026 - 09:57 WIB