Okepost.id, Jakarta – Harapan sebagian pelaku pasar terhadap lonjakan harga properti hingga 20-30 persen secara luas dalam waktu dekat dinilai sulit terwujud.
Sejumlah pengamat menilai kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, dan distribusi permintaan yang belum merata menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga properti di berbagai wilayah.
Meski sektor properti mulai menunjukkan pemulihan, tren pertumbuhan harga diperkirakan berlangsung lebih moderat dan hanya terjadi pada lokasi-lokasi yang memiliki fundamental kuat.
Kawasan dengan dukungan infrastruktur, aktivitas ekonomi tinggi, serta pertumbuhan penduduk yang stabil masih menjadi magnet utama bagi investor dan pembeli rumah.
Daya Beli Masyarakat Masih Menjadi Tantangan
Pengamat menilai kenaikan harga properti yang mencapai 20-30 persen secara merata membutuhkan lonjakan permintaan yang sangat besar.
Namun hingga saat ini, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga pasar bergerak lebih selektif.
Selain itu, ketersediaan stok hunian yang masih cukup banyak di sejumlah daerah membuat ruang kenaikan harga menjadi terbatas.
Kondisi tersebut mendorong pengembang dan pemilik properti untuk tetap bersaing dalam menawarkan harga yang kompetitif kepada konsumen.
“Pasar saat ini tidak mendukung kenaikan harga secara masif di seluruh wilayah. Kenaikan tetap ada, tetapi lebih terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi,” ujar seorang analis properti.
Kawasan Strategis Tetap Menjadi Primadona
Meskipun kenaikan harga properti secara luas dinilai sulit terjadi, peluang pertumbuhan tetap terbuka pada kawasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Wilayah yang dekat dengan pusat bisnis, kawasan industri, proyek infrastruktur, serta pusat pendidikan dan kesehatan diprediksi mencatat kenaikan harga lebih baik dibanding daerah lainnya.
Investasi pemerintah dalam pembangunan jalan tol, transportasi massal, dan kawasan ekonomi baru juga menjadi faktor yang mampu meningkatkan nilai properti di wilayah tertentu.
Para investor pun mulai mengalihkan fokus dari strategi membeli properti secara umum menjadi pendekatan yang lebih spesifik berdasarkan potensi lokasi dan kebutuhan pasar.
Investor Diminta Mengutamakan Analisis Fundamental
Pengamat mengingatkan bahwa keputusan investasi properti sebaiknya tidak hanya didasarkan pada harapan kenaikan harga jangka pendek.
Investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor fundamental seperti pertumbuhan ekonomi daerah, tingkat okupansi, perkembangan infrastruktur, serta tren kebutuhan hunian masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, peluang memperoleh keuntungan jangka panjang akan lebih besar dibanding sekadar mengandalkan spekulasi pasar.
Prospek Properti Masih Positif
Meski tidak diproyeksikan mengalami lonjakan harga secara masif, sektor properti tetap memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang.
Stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah yang mendukung sektor perumahan, serta kebutuhan hunian yang terus meningkat menjadi faktor yang menjaga optimisme pasar.
Pelaku industri meyakini pertumbuhan properti akan berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan apabila ditopang oleh permintaan riil masyarakat, bukan hanya dorongan spekulatif.(Pro)









