Harga Properti 2026 Diprediksi Sulit Naik 30 Persen, Ini Penyebabnya

Pasar Properti 2026 Diperkirakan Tumbuh Selektif, Kenaikan Harga Signifikan Hanya Terjadi di Kawasan Potensial

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 09:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo ilustrasi

Photo ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Harapan sebagian pelaku pasar terhadap lonjakan harga properti hingga 20-30 persen secara luas dalam waktu dekat dinilai sulit terwujud.

Sejumlah pengamat menilai kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, dan distribusi permintaan yang belum merata menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga properti di berbagai wilayah.

Meski sektor properti mulai menunjukkan pemulihan, tren pertumbuhan harga diperkirakan berlangsung lebih moderat dan hanya terjadi pada lokasi-lokasi yang memiliki fundamental kuat.

Kawasan dengan dukungan infrastruktur, aktivitas ekonomi tinggi, serta pertumbuhan penduduk yang stabil masih menjadi magnet utama bagi investor dan pembeli rumah.

Daya Beli Masyarakat Masih Menjadi Tantangan

Pengamat menilai kenaikan harga properti yang mencapai 20-30 persen secara merata membutuhkan lonjakan permintaan yang sangat besar.

Namun hingga saat ini, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga pasar bergerak lebih selektif.

Selain itu, ketersediaan stok hunian yang masih cukup banyak di sejumlah daerah membuat ruang kenaikan harga menjadi terbatas.

Baca Juga :  Gaji Pensiunan ASN 2026 Belum Naik, Belum Ada Aturan Baru

Kondisi tersebut mendorong pengembang dan pemilik properti untuk tetap bersaing dalam menawarkan harga yang kompetitif kepada konsumen.

“Pasar saat ini tidak mendukung kenaikan harga secara masif di seluruh wilayah. Kenaikan tetap ada, tetapi lebih terkonsentrasi pada kawasan yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi,” ujar seorang analis properti.

Kawasan Strategis Tetap Menjadi Primadona

Meskipun kenaikan harga properti secara luas dinilai sulit terjadi, peluang pertumbuhan tetap terbuka pada kawasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Wilayah yang dekat dengan pusat bisnis, kawasan industri, proyek infrastruktur, serta pusat pendidikan dan kesehatan diprediksi mencatat kenaikan harga lebih baik dibanding daerah lainnya.

Investasi pemerintah dalam pembangunan jalan tol, transportasi massal, dan kawasan ekonomi baru juga menjadi faktor yang mampu meningkatkan nilai properti di wilayah tertentu.

Para investor pun mulai mengalihkan fokus dari strategi membeli properti secara umum menjadi pendekatan yang lebih spesifik berdasarkan potensi lokasi dan kebutuhan pasar.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.935 per Dolar AS Hari Ini, Ditopang Harapan Damai Timur Tengah dan Sinyal BI

Investor Diminta Mengutamakan Analisis Fundamental

Pengamat mengingatkan bahwa keputusan investasi properti sebaiknya tidak hanya didasarkan pada harapan kenaikan harga jangka pendek.

Investor perlu mempertimbangkan berbagai faktor fundamental seperti pertumbuhan ekonomi daerah, tingkat okupansi, perkembangan infrastruktur, serta tren kebutuhan hunian masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, peluang memperoleh keuntungan jangka panjang akan lebih besar dibanding sekadar mengandalkan spekulasi pasar.

Prospek Properti Masih Positif

Meski tidak diproyeksikan mengalami lonjakan harga secara masif, sektor properti tetap memiliki prospek positif dalam jangka menengah hingga panjang.

Stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah yang mendukung sektor perumahan, serta kebutuhan hunian yang terus meningkat menjadi faktor yang menjaga optimisme pasar.

Pelaku industri meyakini pertumbuhan properti akan berlangsung lebih sehat dan berkelanjutan apabila ditopang oleh permintaan riil masyarakat, bukan hanya dorongan spekulatif.(Pro)

Berita Terkait

Eks Hotel Sultan Disiapkan Jadi Ikon Baru Jakarta, Pemerintah Gandeng Investor Dalam dan Luar Negeri
Harmoni Park Group Targetkan Penjualan Properti Naik 20 Persen pada 2026, Hunian Bekasi Makin Diminati
KPR Tenor 40 Tahun Segera Diterapkan, Cicilan Rumah Subsidi Berpotensi di Bawah Rp1 Juta
PPN DTP hingga Akhir 2026 Dorong Penjualan Rumah Menengah, Citanusa Catat Kenaikan Closing Rate
PWON Raih Penghargaan BIA 2026, Pendapatan Pakuwon Jati Tembus Rp7,11 Triliun
PMN Rp1 Triliun Perumnas Belum Cair, Perubahan Kementerian Jadi Kendala
Danantara Terima Hibah Lahan 30 Hektare dari Lippo untuk Program 3 Juta Rumah
Permen PKP 4/2025 Resmi Berlaku, Pengelolaan Rumah Susun Diperkuat
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 17:41 WIB

Eks Hotel Sultan Disiapkan Jadi Ikon Baru Jakarta, Pemerintah Gandeng Investor Dalam dan Luar Negeri

Kamis, 9 Juli 2026 - 09:04 WIB

Harmoni Park Group Targetkan Penjualan Properti Naik 20 Persen pada 2026, Hunian Bekasi Makin Diminati

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:33 WIB

KPR Tenor 40 Tahun Segera Diterapkan, Cicilan Rumah Subsidi Berpotensi di Bawah Rp1 Juta

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:46 WIB

PPN DTP hingga Akhir 2026 Dorong Penjualan Rumah Menengah, Citanusa Catat Kenaikan Closing Rate

Sabtu, 4 Juli 2026 - 16:10 WIB

PWON Raih Penghargaan BIA 2026, Pendapatan Pakuwon Jati Tembus Rp7,11 Triliun

Berita Terbaru

INVESTASI

Harga Emas Antam Hari Ini 26 Juli 2026, Cek Rincian Terbarunya

Minggu, 26 Jul 2026 - 10:05 WIB