Okepost.id – Tahu dan makanan berbahan dasar kedelai tidak hanya merupakan sumber protein nabati yang penting, tetapi juga dapat berkontribusi dalam mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Sebuah meta-analisis skala besar yang diterbitkan di BMJ menemukan bahwa konsumsi rutin makanan berbahan dasar kedelai dikaitkan dengan penurunan risiko hipertensi yang signifikan. Kesimpulan ini didasarkan pada data dari 12 studi yang dilakukan di AS, Eropa, dan Asia untuk menilai hubungan antara konsumsi makanan berbahan dasar kedelai dan risiko hipertensi.
Dengan demikian, mereka yang mengonsumsi berbagai jenis kacang-kacangan memiliki risiko terkena tekanan darah tinggi 16% lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi paling sedikit. Untuk makanan berbahan dasar kedelai, penurunan risikonya adalah 19%.
Selain mengkonfirmasi manfaat kelompok makanan ini, para penulis juga menentukan jumlah konsumsi optimal. Dengan demikian, mengonsumsi 60-80 porsi makanan berbahan dasar kedelai per hari dapat membantu mengurangi risiko tekanan darah tinggi sebesar 28-29%. Mengonsumsi lebih dari jumlah ini tidak memberikan manfaat nyata lainnya.
Menurut penelitian, 100g kedelai setara dengan satu blok tahu seukuran telapak tangan. Para ilmuwan percaya bahwa efek perlindungan dari tahu dan makanan berbahan dasar kedelai berasal dari beberapa mekanisme. Pertama, kelompok makanan ini kaya akan mineral yang bermanfaat untuk mengatur tekanan darah. Kalium membantu tubuh menghilangkan kelebihan natrium, sementara magnesium berperan dalam merelaksasi otot polos dinding pembuluh darah.
Selain itu, serat larut dalam kacang-kacangan, ketika memasuki usus, difermentasi oleh mikroorganisme, menghasilkan asam lemak rantai pendek. Senyawa-senyawa ini diyakini membantu pembuluh darah rileks dan melebar dengan lebih baik, sehingga berkontribusi pada penurunan tekanan darah.
Kedelai, khususnya, mengandung isoflavon senyawa tumbuhan yang dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Ini juga merupakan salah satu alasan mengapa makanan berbahan dasar kedelai menunjukkan risiko tekanan darah tinggi yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kacang-kacangan lainnya secara umum.
Studi ini juga membahas kesalahpahaman umum yang menyebabkan banyak orang membatasi konsumsi tahu atau susu kedelai karena kekhawatiran tentang asam urat. Namun, para penulis menyatakan bahwa purin yang berasal dari tumbuhan tidak terkait dengan risiko serangan asam urat dengan cara yang sama seperti purin dari daging merah atau makanan laut.
Oleh karena itu, makanan berbahan dasar kedelai dianggap tidak meningkatkan risiko asam urat. Penderita asam urat masih dapat mengonsumsi tahu, susu kedelai, dan produk kedelai lainnya dalam jumlah yang tepat sebagai bagian dari diet harian mereka. (*)









