Dolar Mendadak Terkapar, Rupiah Perkasa di Asia

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Kinerja rupiah sepanjang pekan ini sudah mulai membaik dan mulai menjauhi level psikologis Rp18.000/US$, di tengah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS)  meski sejatinya masih cukup kuat. Melansir Refinitiv, pada Jumat (17/7/2026), rupiah ditutup menguat 0,53% ke posisi Rp17.885/US$. Sedangkan sepanjang pekan ini, rupiah berhasil menguat 0,89% secara point-to-point.

Sementara itu di deretan mata uang Asia, rupiah menjadi yang terbaik karena penguatannya paling kencang. Selain rupiah, ada won Korea Selatan yang menguat 0,76%, sedangkan dolar Singapura dan yuan China naik tipis masing-masing 0,02% dan 0,01%.

Rupee India menjadi yang terburuk di pekan ini, yakni ambles 1,01% di hadapan greenback. Ada juga baht Thailand, ringgit Malaysia, dan yen Jepang yang terkoreksi pekan ini.

Tekanan terhadap rupiah sudah mulai mereda setelah dolar AS terkoreksi, meski sejatinya masih cukup kuat. Indeks dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada perdagangan kemarin turun tipis 0,01% ke posisi 100,755. Dalam sepekan pun hanya terkoreksi 0,18%. Kuatnya dolar AS terjadi karena masih berada di angka 100.

Baca Juga :  Jadwal Timnas Futsal Indonesia vs Kirgiztan Hari Ini

Greenback tengah berada di jalur penurunan secara mingguan setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat.

Data ekonomi lainnya memang menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat, terutama dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Namun, ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini setelah inflasi konsumen AS melandai pada Juni.

Pejabat The Fed masih bersikap hati-hati karena perbaikan inflasi baru terlihat dalam satu bulan, setelah sebelumnya bergerak naik selama beberapa bulan. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan lebih lanjut.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli kini berada di level 11%, turun dari 25% pada pekan lalu. Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 26 basis poin hingga Desember, lebih rendah dibandingkan 44 basis poin pada awal pekan ini.

Baca Juga :  Pemerintah Kecamatan Pesisir Bukit Gelar Musrenbang 2026

Di luar kebijakan The Fed, pelaku pasar masih mencermati konflik Iran dan AS yang kembali memanas. Kedua negara saling meningkatkan serangan dalam sepekan terakhir hingga membuat kesepakatan gencatan senjata bulan lalu nyaris runtuh. Rupiah turut mendapat sentimen positif dari realisasi investasi Indonesia yang tetap tumbuh pada paruh pertama tahun ini.

Pemerintah mencatat realisasi investasi sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan (year on year/yoy). Jumlah tersebut setara dengan 49,5% dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
“Realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2%,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani dalam konferensi pers, Kamis (16/7/2026).

Dari total tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sedikit lebih besar, yakni Rp507,6 triliun. Besarnya porsi investasi asing memberikan sentimen positif bagi rupiah karena menunjukkan minat investor luar negeri terhadap perekonomian Indonesia masih terjaga. (*)

Berita Terkait

Dewan Pers: Regulasi Media Sosial Mendesak agar Profesi Jurnalis Tidak Tersingkir
Rupiah Melemah ke Rp17.932 per Dolar AS Pagi Ini Rabu 22 Juni 2026
Pertamina Ungkap Pergeseran Konsumsi BBM ke Pertalite dan Biosolar
Dirjen GTK Dukung Aspirasi PPPK Paruh Waktu, Harapan Kabar Baik dari Presiden Prabowo Makin Menguat
Rupiah Menguat Tipis Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.920
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
Harga Emas Antam Sepekan Turun Rp 41.000, Kini Rp 2,614 Juta Per Gram
Grafik Harga Emas Antam Batangan (18 Juli 2026), Hari Ini Turun atau Naik?
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:46 WIB

Dewan Pers: Regulasi Media Sosial Mendesak agar Profesi Jurnalis Tidak Tersingkir

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:58 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.932 per Dolar AS Pagi Ini Rabu 22 Juni 2026

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:46 WIB

Pertamina Ungkap Pergeseran Konsumsi BBM ke Pertalite dan Biosolar

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:36 WIB

Dirjen GTK Dukung Aspirasi PPPK Paruh Waktu, Harapan Kabar Baik dari Presiden Prabowo Makin Menguat

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:38 WIB

Rupiah Menguat Tipis Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.920

Berita Terbaru