Okepost.id, Jakarta – Harga emas logam mulia diperkirakan masih bergerak naik turun pada pekan depan. Meski demikian, analis menilai setiap penurunan harga justru dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan harga emas masih memiliki peluang menguat meskipun tetap dibayangi fluktuasi pasar.
Secara teknikal, harga logam mulia diperkirakan memiliki area penopang atau support pertama di level Rp2.650.000 per gram. Jika tekanan jual meningkat, harga berpotensi turun menuju support berikutnya di Rp2.550.000 per gram.
Di sisi lain, apabila tren penguatan berlanjut, harga emas berpeluang menguji resistance di level Rp2.690.000 per gram. Setelah menembus level tersebut, harga diperkirakan berpotensi bergerak menuju Rp2.780.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan faktor utama yang menopang harga emas saat ini berasal dari tingginya permintaan fisik dari bank-bank sentral dunia.
Hingga Mei 2026, bank sentral global dilaporkan menambah cadangan emas sekitar 41 ton. China tercatat menjadi salah satu negara dengan pembelian terbesar setelah menambah sekitar 10 ton emas sehingga total cadangannya mencapai sekitar 2.331 ton.
Selain China, sejumlah negara lain juga tercatat melakukan pembelian emas, seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Singapura, Republik Ceko, dan Yordania.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan banyak bank sentral memanfaatkan pelemahan harga emas sebagai momentum menambah cadangan devisa berbasis logam mulia.
Prospek emas juga mendapat dukungan dari meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Berdasarkan data harga logam mulia per 5 Juli 2026, harga emas Antam mencapai Rp2.650.000 per gram. Untuk ukuran 0,5 gram, harga tercatat Rp1.385.000, sedangkan ukuran 1.000 gram mencapai Rp2,610 miliar.(Pro)








