Okepost.id, Jakarta – Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan setelah muncul transaksi jumbo pada ETF Bitcoin milik BlackRock yang memicu spekulasi mengenai keluarnya investor institusi dari sektor aset digital.
Transaksi bernilai US$1,26 miliar atau setara lebih dari Rp20 triliun tersebut terjadi di tengah gelombang arus dana keluar yang masih membayangi ETF bitcoin spot di Amerika Serikat.
Data yang dikutip dari CoinDesk menunjukkan sebanyak 29,21 juta saham iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock berpindah tangan melalui transaksi di luar bursa pada 26 Mei 2026.
Saham tersebut dijual dengan harga US$43,16 per unit, lebih rendah 2,3 persen dibanding harga pasar saat itu yang berada di level US$44,17.
Selisih harga tersebut membuat penjual harus menerima potongan nilai transaksi sekitar US$29,5 juta. Besarnya diskon memunculkan dugaan bahwa investor yang melakukan transaksi lebih mengutamakan kecepatan keluar dari pasar dibanding memperoleh harga terbaik.
Perusahaan investasi aset digital NYDIG menilai transaksi tersebut kemungkinan besar merupakan aksi pelepasan posisi oleh investor institusi berskala besar.
Kepala Riset Global NYDIG, Greg Cipolaro, menjelaskan sejumlah indikator menunjukkan transaksi itu tidak berkaitan dengan strategi basis trade yang selama ini banyak digunakan hedge fund untuk memanfaatkan selisih harga antara pasar spot dan kontrak berjangka bitcoin.
Menurut dia, tidak terdapat aktivitas signifikan pada pasar kontrak berjangka bitcoin di CME Group yang biasanya muncul ketika investor menutup posisi basis trade dalam jumlah besar.
NYDIG menghitung jumlah saham IBIT yang berpindah tangan setara dengan sekitar 3.700 kontrak futures bitcoin CME. Namun pada waktu transaksi berlangsung, hanya sekitar 91 kontrak yang tercatat diperdagangkan.
Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa transaksi tersebut merupakan aksi jual langsung oleh pemegang institusi dan bukan bagian dari strategi arbitrase yang melibatkan pasar futures.
“Besarnya transaksi, diskon eksekusi sebesar 2,3 persen, tidak adanya aktivitas futures CME yang terkait, serta terbatasnya jumlah penjual potensial memperlemah pandangan bahwa transaksi tersebut merupakan pelepasan basis trade secara bersamaan,” kata Greg Cipolaro dalam laporannya.
Tekanan terhadap pasar kripto juga terlihat dari kinerja ETF bitcoin spot di Amerika Serikat. Berdasarkan data SoSoValue, produk investasi tersebut mencatat arus dana keluar bersih secara beruntun sepanjang periode 15 hingga 29 Mei 2026.
Akibat tren outflow tersebut, total aset kelolaan ETF bitcoin spot AS menyusut dari US$107,75 miliar menjadi US$94,17 miliar hanya dalam kurun waktu dua pekan.
Sementara itu, harga bitcoin juga belum mampu menunjukkan pemulihan yang signifikan. Sepanjang tahun 2026, aset kripto terbesar di dunia itu telah mengalami koreksi sekitar 16 persen.
Di sisi lain, pasar saham dan komoditas justru mencatat kinerja yang lebih baik. Banyak investor memilih mengalihkan dana ke instrumen investasi yang dinilai menawarkan peluang imbal hasil lebih menarik dengan tingkat risiko yang lebih terukur.
Pergerakan dana keluar dari ETF bitcoin serta transaksi jumbo pada produk investasi milik BlackRock kini menjadi perhatian pelaku pasar. Mereka menilai langkah investor institusi akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pasar kripto dalam beberapa bulan mendatang.
Jika tekanan arus dana keluar terus berlanjut, volatilitas bitcoin berpotensi meningkat. Namun, sebagian analis juga melihat kondisi tersebut sebagai peluang akumulasi bagi investor yang masih optimistis terhadap prospek jangka panjang aset digital.(Pro)









