Okepost.id, Jakarta – Kasus 115 dakwaan yang membelit Manchester City kembali menjadi perhatian publik sepak bola Inggris.
Perkembangan terbaru dalam sengketa hukum antara Everton dan Burnley disebut dapat membuka jalan bagi klub-klub Liga Inggris untuk mengajukan tuntutan kompensasi terhadap The Citizens apabila terbukti bersalah.
Pekan ini, Everton diperintahkan membayar kompensasi sebesar 40 juta poundsterling kepada Burnley setelah kalah dalam sengketa terkait pelanggaran Aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR).
Putusan tersebut dinilai memiliki dampak besar karena berpotensi menjadi preseden hukum bagi klub-klub yang merasa dirugikan akibat pelanggaran aturan kompetisi.
Menurut laporan media hukum The Lawyer, Burnley berhasil meyakinkan pengadilan bahwa mereka mengalami kerugian finansial akibat pelanggaran yang dilakukan Everton.
Burnley berargumen bahwa jika pengurangan poin terhadap Everton dijatuhkan lebih awal pada musim 2021/2022, posisi kedua klub di klasemen akan berubah.
Dalam skenario tersebut, Everton seharusnya terdegradasi dari Liga Inggris, sedangkan Burnley tetap bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Perubahan nasib itu berdampak langsung terhadap pendapatan klub, termasuk hak siar dan pemasukan komersial lainnya.
Atas dasar itulah Burnley mengajukan gugatan dan akhirnya memenangkan perkara dengan nilai kompensasi mencapai 40 juta poundsterling.
Aturan Liga Inggris sendiri memungkinkan klub untuk menuntut kompensasi dari klub lain jika terbukti mengalami kerugian akibat pelanggaran regulasi kompetisi. Nilai kerugian biasanya dihitung berdasarkan peluang yang hilang dan potensi keuntungan yang seharusnya diperoleh.
Situasi tersebut membuat sejumlah klub mulai mengamati dengan serius kasus 115 dakwaan yang sedang dihadapi Manchester City. Beberapa klub bahkan dilaporkan telah menunjuk penasihat hukum untuk menyiapkan langkah hukum apabila City nantinya dinyatakan bersalah.
Laporan The Lawyer menyebut proses banding dalam kasus Everton dan Burnley akan dipantau secara ketat karena dapat menjadi acuan penting dalam menentukan peluang gugatan terhadap Manchester City.
Sementara itu, media SheWore menyoroti kemungkinan bentuk kerugian yang dapat dijadikan dasar tuntutan. Salah satu contohnya terjadi pada musim 2015/2016 ketika Manchester City finis di posisi keempat klasemen Liga Inggris dengan jumlah poin yang sama seperti Manchester United, tetapi unggul selisih gol.
Hasil tersebut membuat Manchester City lolos ke Liga Champions, sementara Manchester United gagal mendapatkan tiket ke kompetisi elite Eropa tersebut. Padahal, partisipasi di Liga Champions musim berikutnya diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar 50 juta poundsterling.
Jika nantinya terbukti ada pelanggaran yang memengaruhi hasil kompetisi, klub-klub yang merasa dirugikan berpotensi menggunakan selisih pendapatan tersebut sebagai dasar tuntutan kompensasi.
Sebagian besar dari 115 dakwaan yang dihadapi Manchester City berkaitan dengan dugaan pelanggaran aturan keuangan dalam periode 2009 hingga 2018. Hingga kini, Liga Inggris masih menunggu keputusan akhir dari proses hukum yang berlangsung.
Meski belum ada kepastian mengenai jadwal pengumuman putusan, sejumlah sumber internal meyakini vonis kasus tersebut dapat keluar dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Apabila Manchester City dinyatakan bersalah, klub juara Liga Inggris itu bukan hanya menghadapi sanksi olahraga, tetapi juga berpotensi menghadapi gelombang gugatan kompensasi bernilai ratusan juta poundsterling dari klub-klub rival yang merasa dirugikan selama periode pelanggaran tersebut.(Pro)









