Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif, tetapi cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah muncul seiring meningkatnya sentimen risk-off global akibat lonjakan harga minyak dunia dan memanasnya tensi geopolitik internasional.
Berdasarkan data Trading View, rupiah pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) melemah 1,12% ke posisi Rp17.655 per dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia tercatat turun 0,63%, peso Filipina melemah 0,09%, dan rupee India turun 0,33%. Yen Jepang ikut terdepresiasi 0,11%, sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,02% dan dolar Taiwan turun 0,10%.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru berhasil menguat. Yuan China naik 0,11%, dolar Singapura dan won Korea Selatan masing-masing menguat 0,04%, sementara baht Thailand terapresiasi 0,15% terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pasar masih menghindari aset berisiko akibat ketidakpastian global yang belum mereda.
Menurutnya, investor kecewa terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena belum menghasilkan solusi konkret terkait konflik geopolitik, termasuk ketegangan AS-Iran.
“Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu dolar AS dan meninggalkan aset emerging market seperti rupiah,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak mentah dunia juga dinilai memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Investor khawatir konflik geopolitik akan memicu kenaikan harga energi dalam jangka pendek.
Selain sentimen eksternal, faktor domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar disebut memberikan respons negatif terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto sehingga ikut membebani mata uang domestik.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalue.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (18/5/2026), Perry menyebut nilai fundamental rupiah berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS sesuai asumsi makro APBN 2026.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS selama periode April hingga Juni. Namun, Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat mulai Juli hingga Agustus 2026.
“Permintaan dolar masih tinggi pada April hingga Juni. Setelah itu kami melihat peluang penguatan rupiah pada semester kedua tahun ini,” kata Perry.
Pada perdagangan pagi ini, rupiah dibuka melemah 17 poin atau 0,10% ke level Rp17.685 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS tercatat turun 0,14% ke posisi 99,05. (Pro)









