Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Setelah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS, pelaku pasar kini mewaspadai potensi pelemahan lanjutan akibat kombinasi sentimen global dan domestik.
Data RTI Infokom menunjukkan rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke posisi Rp17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Pada waktu yang sama, indeks dolar Amerika Serikat juga menguat 0,31 persen ke level 98,25.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Research and Development ICDX, Tiffani Safinia, menilai kondisi global saat ini membuat permintaan terhadap aset safe haven meningkat tajam.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Selain itu, pasar juga menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan mendatang.
Investor Asing Masih Waspadai Pasar Indonesia
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Sentimen domestik juga ikut memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia.
Investor asing masih mencermati stabilitas pasar modal nasional, termasuk isu transparansi dan struktur pasar yang sebelumnya menjadi sorotan MSCI. Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih menahan aliran modal ke aset domestik.
Di sisi lain, pasar juga memperhatikan kapasitas fiskal pemerintah di tengah potensi meningkatnya beban subsidi energi akibat pelemahan rupiah.
Permintaan dolar AS dari korporasi untuk pembayaran utang luar negeri pada periode April hingga Mei 2026 juga meningkatkan tekanan di pasar valas domestik.
Kombinasi faktor tersebut membuat rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya.
Pelemahan Rupiah Bisa Picu Inflasi Impor
Tiffani menjelaskan depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan imported inflation atau inflasi impor. Harga bahan baku, energi, dan barang konsumsi dari luar negeri dapat naik sehingga memicu kenaikan harga di dalam negeri.
Selain itu, pemerintah juga menghadapi risiko meningkatnya beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri ketika kurs rupiah melemah.
Bagi dunia usaha, kondisi ini dapat menekan arus kas perusahaan yang memiliki kewajiban dolar AS tetapi memperoleh pendapatan dalam rupiah.
Meski begitu, pelemahan rupiah masih memberi keuntungan bagi sektor ekspor. Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga jual lebih murah dalam dolar AS.
Bank Indonesia juga dinilai masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valas dan penguatan kebijakan moneter.
Rupiah Diprediksi Tetap Lemah hingga Akhir Tahun
Sementara itu, Trading Economics memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.388 per dolar AS pada akhir kuartal II 2026.
Lembaga tersebut juga memproyeksikan rupiah masih bergerak di rentang Rp17.300 hingga lebih dari Rp17.500 per dolar AS sampai akhir 2026.
Selama ketidakpastian global masih tinggi dan arah suku bunga AS belum berubah signifikan, volatilitas rupiah diperkirakan tetap besar dalam jangka pendek.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi Indonesia
Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai akibat melemahnya rupiah:
Harga barang impor berpotensi naik
Inflasi domestik dapat meningkat
Beban subsidi energi pemerintah bertambah
Biaya utang luar negeri korporasi meningkat
Eksportir berpeluang mendapat keuntungan kurs. (Pro)









