Okepost.id, Jakarta – Volume transaksi kartu debit dan kredit yang terhubung dengan aset kripto terus menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2026. Lonjakan penggunaan stablecoin sebagai alat pembayaran harian menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut.
Laporan The Kobeissi Letter mencatat volume transaksi bulanan kartu kripto naik sekitar 230 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga Mei 2026, total akumulasi transaksi kartu pembayaran berbasis kripto telah mencapai sekitar US$7,8 miliar atau setara Rp139 triliun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aset digital kini tidak hanya digunakan untuk investasi atau trading, tetapi mulai masuk ke aktivitas pembayaran sehari-hari.
“Adopsi kartu kripto meningkat pesat pada 2026 karena akses terhadap stablecoin sebagai jalur pembayaran melalui kartu kripto semakin luas,” tulis The Kobeissi Letter dalam laporannya.
Laporan itu menyebut semakin banyak pengguna memanfaatkan stablecoin layaknya mata uang fiat melalui kartu pembayaran kripto. Kondisi ini dinilai mempercepat adopsi aset digital secara global.
Visa Kuasai Pasar Kartu Kripto
Dalam perkembangan terbaru, Visa disebut mendominasi sekitar 90 persen transaksi kartu kripto melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan pembayaran berbasis blockchain, termasuk Jupiter Global.
Jupiter Global merupakan proyek pembayaran yang dikembangkan oleh tim di balik Jupiter, decentralized exchange di jaringan Solana. Melalui layanan tersebut, pengguna dapat membelanjakan stablecoin secara langsung menggunakan kartu pembayaran untuk berbagai kebutuhan harian.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa integrasi aset digital dengan sistem pembayaran konvensional semakin kuat. Perusahaan pembayaran global seperti Visa dan Mastercard kini justru menjadi penghubung utama antara dunia kripto dan transaksi nyata.
Stablecoin Mulai Dipakai untuk Transaksi Harian
Penggunaan kartu kripto juga mulai terlihat dalam aktivitas belanja sehari-hari. Pada Januari 2026, exchange kripto OKX meluncurkan kartu pembayaran stablecoin berbasis jaringan Mastercard untuk pengguna di kawasan Eropa.
Data OKX menunjukkan transaksi terbesar berasal dari kategori belanja ritel yang menyumbang sekitar 26 persen dari total penggunaan kartu. Sementara itu, restoran berada di posisi kedua dengan kontribusi sekitar 18 persen, diikuti transaksi belanja online sebesar 13 persen.
Menurut OKX, meningkatnya penggunaan stablecoin untuk membayar makan siang hingga kebutuhan sehari-hari menjadi tanda bahwa aset digital mulai diterima sebagai alat pembayaran praktis.
Selama ini, salah satu kritik terbesar terhadap aset kripto adalah minimnya penggunaan di kehidupan nyata. Namun, tren transaksi kartu kripto yang terus meningkat menunjukkan stablecoin mulai menemukan fungsi nyata di sektor pembayaran.
Ekspansi ke Lebih dari 100 Negara
Pertumbuhan kartu pembayaran kripto juga semakin kuat setelah Visa dan Bridge, perusahaan fintech milik Stripe, mengumumkan ekspansi layanan kartu stablecoin ke lebih dari 100 negara pada Maret 2026.
Pada tahap awal, layanan tersebut tersedia di 18 negara, termasuk Argentina, Kolombia, Ekuador, Meksiko, Peru, dan Chile. Ekspansi berikutnya akan menyasar kawasan Asia-Pasifik, Afrika, hingga Timur Tengah sebelum akhir 2026.
Jika tren pertumbuhan ini terus berlanjut, kartu kripto diperkirakan akan menjadi salah satu pintu utama adopsi stablecoin secara global dalam beberapa tahun ke depan.
Berikut rilis ulang naskah menjadi artikel portal berita online dengan gaya SEO, kalimat aktif, dan minim plagiarisme. (Pro)









