Okepost.id, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada Jumat (5/6/2026).
Mata uang Garuda masih berada dalam tren pelemahan setelah dolar AS menembus level psikologis Rp18.000 dalam beberapa hari terakhir.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset berbasis dolar AS dan tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sulit keluar dari tekanan jual.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah ke posisi Rp18.049 per dolar AS atau turun sekitar 0,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan ini menjadi salah satu level terendah yang dicatat rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Dolar AS Masih Mendominasi Pasar
Penguatan dolar AS didorong oleh sentimen global yang membuat investor memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
Selain itu, pasar juga masih menunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Analis menilai pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, kondisi geopolitik, dan kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.
Jika sentimen eksternal belum membaik, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tetap berada di level tinggi terhadap dolar AS.
Pelaku Usaha dan Investor Diminta Waspada
Melemahnya rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal yang masih bergantung pada transaksi dolar AS. Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan dari selisih kurs yang lebih tinggi.
Para investor juga diminta mencermati volatilitas pasar keuangan yang meningkat akibat pergerakan mata uang global. Strategi diversifikasi aset dinilai penting untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian pasar.
Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan instrumen moneter lainnya guna menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar berharap berbagai kebijakan yang ditempuh otoritas moneter mampu menahan laju pelemahan rupiah sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. (Pro)









