Okepost.id, Jakarta – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memastikan tidak ada perubahan besaran iuran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hingga saat ini. Penegasan tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di media sosial dan sejumlah platform digital yang menimbulkan anggapan bahwa iuran BPJS Kesehatan mengalami kenaikan.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menegaskan bahwa tarif iuran JKN masih mengacu pada Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan yang berlaku saat ini.
Untuk peserta mandiri atau segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), iuran kelas I tetap sebesar Rp150.000 per orang per bulan. Sementara itu, peserta kelas II membayar Rp100.000 per bulan dan peserta kelas III dikenakan iuran Rp42.000 per bulan.
Khusus peserta kelas III, pemerintah masih memberikan subsidi sebesar Rp7.000 per orang per bulan. Dengan demikian, peserta hanya membayar Rp35.000 setiap bulan.
“Iuran JKN sampai saat ini masih tetap dan tidak ada perubahan. Masyarakat perlu berhati-hati terhadap informasi yang tidak utuh atau judul yang menyesatkan seolah-olah ada kenaikan iuran,” ujar Rizzky, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, iuran yang relatif terjangkau tersebut tetap memberikan perlindungan kesehatan yang luas, termasuk untuk penanganan penyakit katastropik yang membutuhkan biaya besar dan perawatan jangka panjang.
Rizzky mencontohkan biaya operasi pemasangan ring jantung yang dapat mencapai sekitar Rp150 juta per pasien. Jika seseorang hanya mengandalkan tabungan pribadi sebesar Rp35.000 per bulan, dibutuhkan waktu sangat lama untuk mengumpulkan dana yang cukup guna membiayai tindakan medis tersebut.
Karena itu, Program JKN menerapkan prinsip gotong royong, di mana peserta yang sehat membantu pembiayaan peserta yang sedang sakit sehingga seluruh peserta dapat memperoleh akses layanan kesehatan yang dibutuhkan.
BPJS Kesehatan juga mengingatkan bahwa biaya layanan kesehatan terus mengalami peningkatan setiap tahun. Kenaikan harga obat, alat kesehatan, perkembangan teknologi medis, hingga biaya operasional rumah sakit menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan sistem jaminan kesehatan nasional.
Meski demikian, BPJS Kesehatan menilai Program JKN masih mampu menjaga keseimbangan antara keterjangkauan iuran dan kualitas perlindungan kesehatan bagi masyarakat.
“Iuran JKN masih tetap sama selama bertahun-tahun di tengah kenaikan biaya kesehatan. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menjaga agar perlindungan kesehatan tetap dapat diakses masyarakat,” kata Rizzky.
Selain itu, BPJS Kesehatan mengimbau seluruh peserta untuk disiplin membayar iuran agar status kepesertaan tetap aktif. Masyarakat juga didorong menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan penyakit dan upaya menekan biaya kesehatan di masa mendatang.
Menurut BPJS Kesehatan, semangat gotong royong menjadi fondasi utama keberlangsungan Program JKN sehingga manfaat perlindungan kesehatan dapat terus dirasakan oleh seluruh peserta di Indonesia.(Pro)









