Rupiah Diprediksi Sentuh 18.000 terhadap Dolar AS Hari Ini 29 Mei 2026

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okepost.id – Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026 dan berpotensi mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan eksternal akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur disebut menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Rupiah. Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026 sudah menunjukkan tekanan yang sangat besar. Saat memberikan keterangannya, rupiah disebut telah melemah sekitar 70 poin ke level Rp 17.870 per dolar AS.

“Hari Kamis, 28 Mei cukup luar biasa terhadap pelemahan mata uang rupiah. Saat saya membuat satu lulis ini, rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870,” ujarnya.

Ibrahim menilai, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang. Ia menyoroti meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangan terhadap instalasi di wilayah Iran Selatan.

Situasi tersebut dinilai berpotensi memicu balasan dari Iran dan meningkatkan eskalasi perang di kawasan. Selain itu, ancaman penyerangan terhadap Oman serta pengerahan kapal-kapal militer Amerika Serikat ke Israel disebut memperbesar risiko konflik skala besar di Timur Tengah.

Baca Juga :  Ini Perbedaan 3 Model Vespa Sprint 180 Terbaru

Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan tersebut juga berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Oman.

Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia. “Kemudian ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas USD 92 bahkan sekarang di USD 96.

Untuk WTI ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak akibat tingginya geopolitik kemudian tingginya transportasi logistik yang membuat harga-harga di Amerika ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan terutama gasolin,” ujarnya.

Sikap The Fed dan Dolar AS Jadi Tekanan Tambahan

Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menilai arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve menjadi tekanan tambahan bagi rupiah. Ia menyinggung pernyataan Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, yang menyebut kekhawatiran utama bank sentral AS saat ini adalah inflasi yang masih tinggi dibanding pelemahan pasar tenaga kerja.

Menurut Ibrahim, pandangan tersebut memunculkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun.
“Sehingga ada indikasi bahwa 52,3 persen para ekonom mengatakan bahwa Bank Sentral kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun ini bahkan bisa menaikkan suku bunga satu kali. Indikasi ini yang membuat dolar kembali terjadi give up,” pungkasnya.

Baca Juga :  Siswa Keroyok Guru, Disdik Turunkan Tim Investigasi

Pelemahan Rupiah Gerus Margin Importir

Sebelumnya, pelemahan nilai tukar Rupiah ke kisaran Rp 17.800 per dolar AS dinilai mulai menekan sektor riil dan perusahaan yang bergantung pada impor. Kenaikan biaya bahan baku, mesin, hingga energi impor membuat margin usaha tergerus dan mendorong perusahaan menahan ekspansi.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengatakan pelemahan Rupiah berkepanjangan paling berdampak terhadap sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku maupun barang modal.

Pelemahan berkepanjangan terutama memukul sektor riil yang bergantung impor karena biaya naik, margin tertekan, dan inflasi impor meningkat, sementara eksportir cenderung diuntungkan,” ujar Nanang kepada Liputan6.com, Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, depresiasi Rupiah membuat biaya produksi dan logistik meningkat karena bahan baku, mesin, serta energi impor menjadi lebih mahal dalam denominasi Rupiah. Kondisi tersebut juga memicu inflasi impor yang dapat menekan daya beli masyarakat dan konsumsi domestik. (*)

Berita Terkait

Bancassurance Masih Jadi Tulang Punggung Premi Asuransi Jiwa, OJK Ungkap Kontribusi Tembus 40,4%
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Mei 2026: UBS Alami Penurunan Terbesar, Antam dan Galeri24
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Kamis 28 Mei 2026 Bergerak Fluktuatif
Rusia Lepas Cadangan Emas Terbesar Sejak 2002, Tekanan Perang dan Defisit Anggaran Makin Berat
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 27 Mei 2026, Simak Daftar Lengkapnya
Pajak Fintech dan Kripto Melesat, Negara Raup Rp 6,91 Triliun
Pertamina NRE Kenalkan Carbon Trading dan Green Jobs kepada Mahasiswa ITB
Mata Uang Rupiah Terus Jeblok, Dolar AS Naik ke Level Rp17.768
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:01 WIB

Bancassurance Masih Jadi Tulang Punggung Premi Asuransi Jiwa, OJK Ungkap Kontribusi Tembus 40,4%

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:31 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Mei 2026: UBS Alami Penurunan Terbesar, Antam dan Galeri24

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:08 WIB

Rupiah Diprediksi Sentuh 18.000 terhadap Dolar AS Hari Ini 29 Mei 2026

Kamis, 28 Mei 2026 - 08:32 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Kamis 28 Mei 2026 Bergerak Fluktuatif

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:23 WIB

Rusia Lepas Cadangan Emas Terbesar Sejak 2002, Tekanan Perang dan Defisit Anggaran Makin Berat

Berita Terbaru