Okepost.id, Jakarta – Pelaku pasar global mulai memperkirakan bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diharapkan. Proyeksi tersebut muncul setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga di AS kembali meningkat.
Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto. Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga pun mulai bergeser ke periode yang lebih panjang.
Data terbaru menunjukkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed, naik menjadi 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,5 persen.
Sementara itu, Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga meningkat menjadi 3,3 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir dan memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi masih sulit dikendalikan.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai data inflasi tersebut langsung memengaruhi sentimen investor global. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga kini semakin menurun seiring meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
“Inflasi yang masih tinggi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta dampak kebijakan tarif perdagangan baru AS mulai memberikan tekanan terhadap berbagai aset berisiko, termasuk saham teknologi dan aset kripto,” ujar Fahmi dalam keterangannya.
Saham AI Tetap Menarik, Namun Mulai Tertekan Biaya Modal
Di tengah ketidakpastian tersebut, sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masih menjadi daya tarik utama investor global.
Investasi besar-besaran pada infrastruktur AI, pusat data, dan ekspansi perusahaan teknologi raksasa masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi AS. Namun, tingginya suku bunga membuat biaya modal semakin mahal dan mulai menekan saham-saham bertumbuh tinggi.
Saham perusahaan AI seperti NVIDIA, Microsoft, dan Palantir Technologies masih menjadi sorotan pasar. Meski demikian, kenaikan yield Treasury AS mulai mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif.
Di sisi lain, sektor kendaraan listrik menghadapi tantangan tersendiri. Tesla dan sejumlah emiten sejenis mulai merasakan dampak dari perlambatan konsumsi serta tingginya biaya pembiayaan.
Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi juga berpotensi menghadapi kesulitan saat melakukan refinancing di tengah suku bunga yang masih mahal.
IPO SpaceX Berpotensi Menyedot Likuiditas Pasar
Selain isu inflasi dan suku bunga, perhatian investor juga tertuju pada kabar yang berkembang mengenai kemungkinan penawaran saham perdana atau IPO SpaceX.
Menurut Fahmi, tingginya valuasi SpaceX di pasar privat menunjukkan bahwa investor masih sangat agresif dalam memburu sektor-sektor strategis seperti AI, teknologi satelit, pertahanan, dan industri luar angkasa.
Apabila IPO SpaceX benar-benar terealisasi dalam waktu dekat, aksi korporasi tersebut berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal modern.
Selain itu, IPO tersebut juga diperkirakan dapat menyerap likuiditas dalam jumlah besar dari sektor teknologi untuk sementara waktu.
Dua Skenario yang Menentukan Arah Pasar Global
Fahmi menjelaskan bahwa pasar keuangan global saat ini sangat sensitif terhadap setiap data ekonomi yang dirilis Amerika Serikat.
Menurutnya, terdapat dua skenario yang perlu diperhatikan investor.
Skenario pertama, apabila inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, pasar saham dan kripto berpotensi mengalami koreksi lanjutan akibat berkurangnya likuiditas global.
Skenario kedua, apabila inflasi mulai melandai dalam beberapa bulan mendatang, pasar berpeluang memasuki fase pertumbuhan baru yang didukung oleh perkembangan AI, peningkatan adopsi kripto institusional, dan peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ekonomi AS kini memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap pasar domestik. Pergerakan nilai tukar rupiah, yield obligasi AS, saham teknologi Wall Street, hingga harga Bitcoin kini saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi global.
Karena itu, investor perlu mengedepankan manajemen risiko dan memahami arah pergerakan likuiditas global sebelum mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang dinamis.(Pro)









