The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama, Pasar Saham dan Kripto Hadapi Tekanan

Bursa Saham

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Pelaku pasar global mulai memperkirakan bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diharapkan. Proyeksi tersebut muncul setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga di AS kembali meningkat.

Kondisi tersebut membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto. Harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga pun mulai bergeser ke periode yang lebih panjang.

Data terbaru menunjukkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed, naik menjadi 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,5 persen.

Sementara itu, Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi juga meningkat menjadi 3,3 persen. Kenaikan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir dan memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi masih sulit dikendalikan.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai data inflasi tersebut langsung memengaruhi sentimen investor global. Menurutnya, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga kini semakin menurun seiring meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

“Inflasi yang masih tinggi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta dampak kebijakan tarif perdagangan baru AS mulai memberikan tekanan terhadap berbagai aset berisiko, termasuk saham teknologi dan aset kripto,” ujar Fahmi dalam keterangannya.

Baca Juga :  Rekomendasi Kripto Hari Ini: CRCLX, PENDLE, dan BIO Dinilai Berpeluang Menguat Saat Pasar Koreksi

Saham AI Tetap Menarik, Namun Mulai Tertekan Biaya Modal

Di tengah ketidakpastian tersebut, sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masih menjadi daya tarik utama investor global.

Investasi besar-besaran pada infrastruktur AI, pusat data, dan ekspansi perusahaan teknologi raksasa masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi AS. Namun, tingginya suku bunga membuat biaya modal semakin mahal dan mulai menekan saham-saham bertumbuh tinggi.

Saham perusahaan AI seperti NVIDIA, Microsoft, dan Palantir Technologies masih menjadi sorotan pasar. Meski demikian, kenaikan yield Treasury AS mulai mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke sektor yang lebih defensif.

Di sisi lain, sektor kendaraan listrik menghadapi tantangan tersendiri. Tesla dan sejumlah emiten sejenis mulai merasakan dampak dari perlambatan konsumsi serta tingginya biaya pembiayaan.

Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi juga berpotensi menghadapi kesulitan saat melakukan refinancing di tengah suku bunga yang masih mahal.

IPO SpaceX Berpotensi Menyedot Likuiditas Pasar

Selain isu inflasi dan suku bunga, perhatian investor juga tertuju pada kabar yang berkembang mengenai kemungkinan penawaran saham perdana atau IPO SpaceX.

Menurut Fahmi, tingginya valuasi SpaceX di pasar privat menunjukkan bahwa investor masih sangat agresif dalam memburu sektor-sektor strategis seperti AI, teknologi satelit, pertahanan, dan industri luar angkasa.

Baca Juga :  IHSG Tertekan, Analis: Kebijakan Pemerintah dan Rupiah Lebih Berpengaruh daripada MSCI

Apabila IPO SpaceX benar-benar terealisasi dalam waktu dekat, aksi korporasi tersebut berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal modern.

Selain itu, IPO tersebut juga diperkirakan dapat menyerap likuiditas dalam jumlah besar dari sektor teknologi untuk sementara waktu.

Dua Skenario yang Menentukan Arah Pasar Global

Fahmi menjelaskan bahwa pasar keuangan global saat ini sangat sensitif terhadap setiap data ekonomi yang dirilis Amerika Serikat.

Menurutnya, terdapat dua skenario yang perlu diperhatikan investor.

Skenario pertama, apabila inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, pasar saham dan kripto berpotensi mengalami koreksi lanjutan akibat berkurangnya likuiditas global.

Skenario kedua, apabila inflasi mulai melandai dalam beberapa bulan mendatang, pasar berpeluang memasuki fase pertumbuhan baru yang didukung oleh perkembangan AI, peningkatan adopsi kripto institusional, dan peluang pelonggaran kebijakan moneter.

Bagi investor Indonesia, perkembangan ekonomi AS kini memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap pasar domestik. Pergerakan nilai tukar rupiah, yield obligasi AS, saham teknologi Wall Street, hingga harga Bitcoin kini saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi global.

Karena itu, investor perlu mengedepankan manajemen risiko dan memahami arah pergerakan likuiditas global sebelum mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang dinamis.(Pro)

Berita Terkait

IHSG Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Analis Rekomendasikan BBRI, BRPT, EMAS, dan EXCL
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.358, Analis Proyeksikan Peluang Naik hingga 6.545
IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Hari Ini, Analis Unggulkan 4 Saham Pilihan
MSCI Ubah Aturan Saham EPI, Peluang Masuk Indeks Global Kini Lebih Besar
BEI Perbarui Daftar Saham HSC, Tujuh Saham Bank Masuk dengan Kepemilikan di Atas 90%
Pasar Saham Indonesia Masih Murah, Investor Pilih Wait and See Meski Valuasi Menarik
Prediksi IHSG Pekan Depan: Berpeluang Menguat Terbatas, Ini Rekomendasi Saham ARCI, BMRI, PGAS, ELSA, dan TAPG
IHSG Dibuka Menguat ke 5.963,83, Saham BBCA, BBRI, dan BRPT Pimpin Kenaikan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:48 WIB

IHSG Berpotensi Terkoreksi Hari Ini, Analis Rekomendasikan BBRI, BRPT, EMAS, dan EXCL

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:25 WIB

IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.358, Analis Proyeksikan Peluang Naik hingga 6.545

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:51 WIB

IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Hari Ini, Analis Unggulkan 4 Saham Pilihan

Jumat, 17 Juli 2026 - 11:33 WIB

MSCI Ubah Aturan Saham EPI, Peluang Masuk Indeks Global Kini Lebih Besar

Rabu, 15 Juli 2026 - 13:13 WIB

BEI Perbarui Daftar Saham HSC, Tujuh Saham Bank Masuk dengan Kepemilikan di Atas 90%

Berita Terbaru