Okepost.id, Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan 18–22 Mei 2026 berada di zona merah akibat tekanan kuat dari sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps. Koreksi tajam pada saham sektor energi dan petrokimia menjadi faktor utama pelemahan pasar saham domestik.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. menjadi penekan terbesar IHSG pekan ini. Saham berkode TPIA tersebut anjlok hingga 53,49 persen dan memberi tekanan signifikan terhadap pergerakan indeks.
Selain TPIA, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) juga mengalami penurunan tajam sebesar 47,34 persen. Pelemahan DSSA ikut memperbesar tekanan terhadap IHSG yang terus bergerak melemah selama sepekan perdagangan.
Tekanan pasar juga datang dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang turun 23,44 persen. Aksi jual investor pada sejumlah saham unggulan membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut drastis.
Tidak hanya itu, beberapa saham big caps lain seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) turut mencatat koreksi tajam.
Akibat tekanan tersebut, IHSG tercatat melemah 8,35 persen sepanjang pekan dan ditutup di level 6.162,04. Penurunan itu sekaligus menjadi salah satu koreksi mingguan terdalam sepanjang tahun 2026.
Analis menilai tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dipicu aksi profit taking, sentimen global, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan ekonomi global dan perkembangan suku bunga yang dinilai akan memengaruhi pergerakan IHSG pada pekan berikutnya.(Pro)









