Okepost.id, Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan kuat setelah pasar diguncang ketidakpastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu. Meski sempat menguat pada akhir pekan, analis menilai penguatan tersebut belum cukup mengubah arah tren bearish di pasar saham Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, IHSG menguat 1,10 persen ke level 6.162. Namun secara mingguan, indeks masih terkoreksi tajam hingga 8,35 persen akibat dominasi aksi jual investor.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai kenaikan IHSG tersebut hanya bersifat sementara atau rebound semu.
Menurut Herditya, tekanan jual masih mendominasi pasar sehingga IHSG berpotensi kembali melemah pada perdagangan awal pekan.
“Pergerakan IHSG diperkirakan masih berada dalam fase koreksi dan berpeluang menguji area support 5.899,” ujarnya dalam riset pasar, Sabtu (23/5/2026).
MNC Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada di area 5.996 hingga 5.899. Sementara itu, level resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.318 sampai 6.459.
Ketidakpastian Regulasi Tekan Saham Komoditas
Tekanan terhadap pasar saham muncul setelah pemerintah mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.
Kebijakan tersebut diumumkan langsung oleh Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026 dan akan diterapkan secara bertahap mulai 1 Juni 2026.
Pada tahap awal, aturan itu mencakup komoditas batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferroalloy. Nantinya, Danantara akan mengendalikan proses ekspor, mulai dari administrasi hingga transaksi kontrak penjualan.
Tim analis Stockbit Sekuritas menilai pasar masih khawatir terhadap mekanisme teknis pelaksanaan aturan tersebut.
Pasalnya, pemerintah belum menjelaskan secara rinci mengenai alur distribusi barang, sistem pembayaran, metode penentuan harga, hingga biaya yang muncul selama proses verifikasi ekspor.
Kondisi itu membuat saham sektor komoditas bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa hari terakhir, terutama saham emiten batu bara.
Investor Asing Masih Lakukan Aksi Jual
Di tengah penguatan IHSG pada akhir pekan, investor asing justru masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp309,52 miliar.
Sepanjang 2026, arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp41,63 triliun. Sementara itu, IHSG telah terkoreksi sekitar 28,74 persen secara year to date (YtD).
Analis menilai kondisi tersebut menunjukkan investor masih memilih sikap wait and see sambil menunggu kepastian aturan pelaksana ekspor satu pintu.
Meski begitu, Stockbit Sekuritas memandang kebijakan pembentukan badan pengelola ekspor sebenarnya memiliki tujuan positif untuk memperbaiki tata kelola sektor komoditas nasional.
Kebijakan ini dinilai dapat membantu pemerintah menekan praktik tambang ilegal, under invoicing, hingga meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak dan PNBP jika diterapkan secara efektif.
Pasar Tunggu Kepastian Pemerintah
Sebelumnya sempat muncul kabar bahwa implementasi kebijakan ekspor satu pintu akan ditunda hingga Januari 2027. Namun, informasi tersebut dibantah oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Pemerintah memastikan masa transisi tetap dimulai pada 1 Juni 2026 sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Pelaku pasar kini menanti kepastian detail aturan sebelum kembali masuk secara agresif ke pasar saham, terutama pada sektor komoditas yang paling terdampak kebijakan tersebut.(Pro)









