Okepost.id, Jakarta – Sentimen domestik dinilai menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi pergerakan pasar modal Indonesia saat ini.
Dibandingkan perubahan komposisi indeks oleh penyedia indeks global MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah dan arah kebijakan pemerintah disebut memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Head of Retail Research di Sinarmas Sekuritas, Ike Widiawati, menilai pasar saat ini lebih sensitif terhadap risiko politik dan kebijakan ekonomi pemerintah dibandingkan faktor eksternal seperti MSCI.
Menurutnya, arah kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang diperhatikan investor karena berkaitan langsung dengan tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
“Sentimen yang memegang peranan paling penting bukan hanya MSCI, tetapi rupiah dan arah kebijakan pemerintah. MSCI justru berada di urutan ketiga,” ujarnya dalam acara bertajuk Cara Recover Portofolio: Tahan, Average Down, atau Cut Loss.
Fundamental Emiten Mulai Tergeser oleh Faktor Psikologis Pasar
Ike menjelaskan, dalam kondisi pasar yang dipenuhi ketidakpastian dan ketakutan ekstrem, faktor fundamental perusahaan sering kali tidak lagi menjadi pertimbangan utama investor.
Kondisi tersebut mendorong aksi jual besar-besaran atau sell off karena pelaku pasar lebih fokus pada risiko yang berkembang dibandingkan kinerja emiten.
Ia mencontohkan sejumlah saham sektor pertambangan yang tetap mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan meskipun tidak terdampak langsung oleh proses rebalancing indeks MSCI.
Hal ini menunjukkan bahwa sentimen kebijakan pemerintah memiliki pengaruh yang lebih luas terhadap pasar.
Rupiah Jadi Barometer Utama Kondisi Ekonomi
Selain kebijakan pemerintah, pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama investor.
Menurut Ike, nilai tukar rupiah dapat dianggap sebagai indikator kesehatan ekonomi nasional. Ketika rupiah melemah, dampaknya dapat dirasakan hampir seluruh sektor, termasuk perusahaan yang tidak masuk dalam indeks MSCI.
Ia menilai pelemahan mata uang domestik berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan margin perusahaan, dan mengurangi daya tarik aset Indonesia di mata investor asing.
Kapitalisasi Pasar BEI Anjlok Rp6.207 Triliun Sejak Awal Tahun
Tekanan terhadap IHSG turut berdampak signifikan terhadap nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
Data perdagangan menunjukkan kapitalisasi pasar sepanjang pekan terakhir turun 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun dari sebelumnya Rp10.729 triliun.
Jika dibandingkan posisi awal tahun 2026, penurunannya mencapai sekitar Rp6.207 triliun atau setara 38,8 persen.
Pada 2 Januari 2026, kapitalisasi pasar Bursa masih berada di level Rp16.014 triliun dengan IHSG tercatat di posisi 8.748,13.
Aktivitas Transaksi Meningkat di Tengah Koreksi Pasar
Meski pasar mengalami tekanan cukup dalam, aktivitas perdagangan justru menunjukkan peningkatan.
Rata-rata frekuensi transaksi harian naik 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali transaksi dibandingkan 2,11 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata volume perdagangan harian meningkat 8,66 persen menjadi 33,63 miliar saham dari sebelumnya 30,95 miliar saham.
Namun, rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan 5,71 persen menjadi Rp26,97 triliun dibandingkan Rp28,38 triliun pada pekan sebelumnya.
Peningkatan frekuensi dan volume transaksi menunjukkan investor tetap aktif melakukan perdagangan, meskipun nilai transaksi cenderung menurun seiring melemahnya harga saham di pasar.
Prospek Pasar Masih Bergantung pada Stabilitas Kebijakan dan Rupiah
Pelaku pasar kini menantikan langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi serta upaya memperkuat nilai tukar rupiah. Analis menilai pemulihan IHSG akan sangat bergantung pada kepastian kebijakan dan membaiknya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.(Pro)









