Okepost.id, Jakarta – Harga emas dunia masih memiliki peluang mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH) hingga akhir 2026, meski dalam beberapa bulan terakhir pergerakannya cenderung melemah dan stabil setelah sempat mencapai puncak pada awal tahun.
Lembaga riset J.P. Morgan Global Research memperkirakan harga emas dapat menembus sekitar US$6.000 per troy ounce pada akhir 2026. Bahkan, nilainya diproyeksikan meningkat hingga sekitar US$6.300 per troy ounce pada 2027 apabila sejumlah faktor pendukung tetap bertahan.
Setelah mencetak rekor pada akhir Januari, harga emas sempat mengalami koreksi pada Maret. Saat ini, logam mulia tersebut bergerak di kisaran US$4.170 hingga US$4.700 per troy ounce.
Kepala Riset Logam Dasar dan Logam Mulia J.P. Morgan, Greg Shearer, mengatakan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menjadi penentu utama pergerakan harga emas.
Jika The Fed kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, minat investor terhadap emas berpotensi berkurang karena instrumen investasi berbunga menjadi lebih menarik.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih menjadi penopang kuat harga emas. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel mendorong investor mempertahankan emas sebagai aset safe haven.
Kekhawatiran terhadap inflasi serta perlambatan ekonomi global juga terus meningkatkan permintaan logam mulia.
Selain faktor geopolitik, pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia diperkirakan tetap menjadi pendorong harga. Meski data resmi menunjukkan perlambatan pembelian pada kuartal pertama 2026, World Gold Council menilai volume sebenarnya masih tinggi karena tidak seluruh transaksi dilaporkan kepada Dana Moneter Internasional (IMF).
China menjadi salah satu negara yang terus memperkuat cadangan emasnya. J.P. Morgan mencatat impor emas bersih China meningkat signifikan pada kuartal pertama 2026 sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS.
Secara keseluruhan, prospek harga emas untuk kembali mencetak rekor tertinggi pada 2026 masih terbuka. Namun, realisasinya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta keberlanjutan pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara.(Pro)









