Okepost.id, Jakarta – Valuasi pasar saham Indonesia dinilai telah berada pada level yang menarik. Meski begitu, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong investor kembali melakukan pembelian secara agresif.
Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Freddy Tedja, mengatakan pelaku pasar masih bersikap wait and see sambil menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan perbaikan fundamental domestik.
Menurut Freddy, hingga akhir Juni 2026 rasio forward price to earnings (P/E) MSCI Indonesia berada di level 8,7 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai 13,2 kali. Kondisi ini menunjukkan valuasi saham Indonesia relatif murah.
Namun, ia menilai valuasi rendah juga mencerminkan masih lemahnya keyakinan investor terhadap prospek jangka pendek pasar saham nasional.
“Pasar saham Indonesia memang menarik dari sisi valuasi, tetapi investor masih membutuhkan keyakinan terhadap prospek ekonomi ke depan,” ujar Freddy, Senin (13/7/2026).
Ia menambahkan, pasar membutuhkan katalis baru agar sentimen investor kembali membaik. Selain pembenahan pasar modal yang telah berjalan sejak awal tahun, pelaku pasar juga menunggu kebijakan ekonomi pemerintah yang konsisten, jelas, dan mampu mendukung iklim usaha.
Freddy juga menilai pemulihan ekonomi riil, terutama peningkatan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat, menjadi faktor penting untuk mengembalikan optimisme investor.
MAMI berharap berbagai langkah penyesuaian kebijakan yang diumumkan pemerintah sejak Juni 2026 mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Selain itu, pembenahan pasar modal yang menjadi perhatian lembaga penyusun indeks global diharapkan berjalan secara berkelanjutan.
Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tetap mengutamakan kualitas fundamental emiten dibanding hanya mengejar saham dengan valuasi murah.
Disiplin dalam mengalokasikan portofolio dan melakukan akumulasi bertahap juga dinilai penting untuk menghadapi volatilitas pasar.
Selain peluang di dalam negeri, Freddy melihat sektor yang berkaitan dengan rantai pasok kecerdasan buatan (AI) dan industri semikonduktor di kawasan Asia masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan.
Meski demikian, seluruh keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.(Pro)









