BI Rate Naik 5,50 Persen, KPR FLPP Dinilai Tetap Aman bagi MBR

Kenaikan suku bunga acuan disebut tidak berdampak langsung pada KPR FLPP, namun berpotensi menambah beban APBN melalui skema Subsidi Selisih Bunga.

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 08:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Searching Google

Searching Google

Okepost.id, Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50 persen dinilai tidak akan memberikan dampak langsung terhadap skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Perumahan Rakyat (Gasperra), Junaidi Abdillah, menyebutkan bahwa perbankan telah terikat komitmen pembiayaan sejak awal dengan BP Tapera sehingga perubahan BI Rate tidak memengaruhi bunga KPR FLPP.

Sebaliknya, dampak kenaikan suku bunga dinilai berpotensi dirasakan pada skema KPR Subsidi Selisih Bunga (SSB). Dalam program tersebut, selisih bunga akibat kenaikan suku bunga pasar harus ditanggung pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, semakin tinggi suku bunga acuan, semakin besar pula kewajiban subsidi yang harus disiapkan pemerintah untuk menjaga keterjangkauan cicilan bagi masyarakat penerima program.

Meski demikian, hambatan utama kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saat ini disebut bukan lagi berasal dari suku bunga kredit maupun uang muka.

Baca Juga :  PPWI Sambut Positif Hasil Rapat Komisi II DPR RI, Harapan Baru bagi PPPK Paruh Waktu 2026

Berbagai insentif pemerintah seperti bunga KPR subsidi 5 persen dan uang muka rendah dinilai telah membantu mengurangi kendala pembiayaan.

Tantangan terbesar justru dinilai berasal dari terus meningkatnya harga tanah dan bangunan, terutama di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut menyebabkan penyediaan rumah terjangkau semakin bergeser ke wilayah pinggiran yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi.

Akibatnya, MBR harus menghadapi biaya transportasi yang lebih tinggi dan waktu tempuh yang lebih panjang menuju tempat kerja. Di sisi lain, kemampuan menabung masyarakat perkotaan juga dinilai semakin tertekan oleh kebutuhan hidup sehari-hari, seperti biaya makan, transportasi, dan sewa tempat tinggal.

Persoalan lain juga ditemukan pada sektor ketenagakerjaan. Dominasi pekerja informal yang diperkirakan mencapai sekitar 60 persen dari total tenaga kerja disebut masih menjadi tantangan dalam akses pembiayaan perbankan karena banyak yang belum memenuhi persyaratan pengajuan KPR.

Baca Juga :  Anak Muda Kini Lirik Properti Luar Negeri, Malaysia Jadi Incaran Baru Investasi Generasi Muda

Sebagai solusi, pemerintah didorong untuk memperbanyak pembangunan hunian vertikal di kawasan perkotaan agar MBR dapat tinggal lebih dekat dengan lokasi pekerjaan dan mengurangi beban biaya harian.

Berbagai kebijakan pemerintah untuk sektor perumahan turut diapresiasi, mulai dari pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) gratis, uang muka rendah, bunga KPR subsidi 5 persen, hingga perlindungan asuransi bagi penerima KPR subsidi.

Namun demikian, perhatian pemerintah dinilai perlu diarahkan pada pengendalian harga tanah dan biaya transaksi lahan yang terus meningkat.

Keberhasilan program perumahan rakyat ke depan disebut tidak hanya bergantung pada kemudahan pembiayaan, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan lahan dan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan perkotaan.(Pro)

Berita Terkait

Greenwoods Tahan Harga Rumah Meski BI Rate Naik, Citaville Cibubur Tetap Diburu Pembeli
KPR Tenor 40 Tahun Segera Meluncur, Cicilan Rumah Bisa Lebih Ringan bagi Masyarakat
Jakarta Barat Jadi Kantong Terbesar Rumah Tak Layak Huni, Program 3 Juta Rumah Didorong Atasi Kawasan Kumuh
Investasi Rp37,62 Triliun Ubah Wajah Gading Serpong, Serpong CBD Siap Jadi Magnet Bisnis Baru
BRI Optimistis Penyaluran KUR Perumahan Tembus Rp12 Triliun pada 2026
Permen PKP 4/2025 Resmi Berlaku, Pengelolaan Rumah Susun Diperkuat
The Floritz Gallery Diluncurkan, Kawasan Komersial Perdana Asthara Skyfront City Siap Dongkrak Investasi dan Bisnis
BI Rate Naik ke 5,50 Persen, Cicilan KPR Diperkirakan Bertambah hingga Rp200 Ribu per Bulan
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:25 WIB

Greenwoods Tahan Harga Rumah Meski BI Rate Naik, Citaville Cibubur Tetap Diburu Pembeli

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:14 WIB

KPR Tenor 40 Tahun Segera Meluncur, Cicilan Rumah Bisa Lebih Ringan bagi Masyarakat

Kamis, 18 Juni 2026 - 14:30 WIB

Jakarta Barat Jadi Kantong Terbesar Rumah Tak Layak Huni, Program 3 Juta Rumah Didorong Atasi Kawasan Kumuh

Selasa, 16 Juni 2026 - 12:12 WIB

Investasi Rp37,62 Triliun Ubah Wajah Gading Serpong, Serpong CBD Siap Jadi Magnet Bisnis Baru

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:52 WIB

BRI Optimistis Penyaluran KUR Perumahan Tembus Rp12 Triliun pada 2026

Berita Terbaru

Artikel

Tips Masak Ayam Kecap Pedas Manis, Bumbu Meresap Sempurna

Jumat, 19 Jun 2026 - 14:28 WIB