Okepost.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026).
Mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global dan domestik.
Pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah tercatat melemah 44 poin atau 0,24 persen ke level Rp18.109 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) bertahan di kisaran 101, mencerminkan dolar yang masih relatif kuat di pasar global.
Direktur Doo Financial Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone, sementara Iran kembali menyatakan penutupan Selat Hormuz.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global sekaligus meningkatkan risiko inflasi di berbagai negara.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut membuat pelaku pasar kembali memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sikap hati-hati bank sentral AS dinilai dapat memperkuat dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Risalah rapat The Fed pada Juni lalu juga menunjukkan sebagian pembuat kebijakan masih membuka peluang kenaikan suku bunga karena tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Rapat kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli 2026.
Sentimen Domestik Ikut Menekan
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai pasar juga mencermati dinamika hukum di dalam negeri. Dugaan kasus korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) disebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kepastian hukum di Indonesia.
Ia menilai kepastian hukum merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga iklim investasi. Jika kepercayaan investor melemah, arus modal berpotensi tertekan dan berdampak pada nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih menghadapi risiko pelemahan dalam jangka pendek.
Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi sekitar pukul 09.05 WIB, rupiah kembali berada di level Rp18.109 per dolar AS, sementara indeks dolar AS tercatat di kisaran 101,24, menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut.(Pro)









