IHSG Berbalik Melemah di Penutupan, Saham Perbankan Jadi Biang Kerok Meski Transaksi Tembus Rp50 Triliun

Bursa Saham

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan penguatan yang terjadi pada sesi pertama perdagangan Jumat (29/5/2026). Setelah sempat melesat lebih dari 1%, IHSG berbalik arah dan ditutup di zona merah akibat tekanan besar dari saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo.

Pada sesi pertama, IHSG sempat naik 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88. Namun menjelang penutupan perdagangan, tekanan jual meningkat sehingga indeks akhirnya terkoreksi 2,8 poin atau 0,05% ke posisi 6.127,38.

Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan berlangsung sangat ramai. Nilai transaksi mencapai Rp50,15 triliun dengan volume perdagangan 47,21 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,38 juta kali. Angka tersebut menjadi salah satu nilai transaksi harian terbesar dalam sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI).

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 271 saham menguat, 409 saham melemah, dan 137 saham bergerak stagnan.

Saham Grup Barito Dominasi Perdagangan

Pergerakan pasar hari ini diwarnai lonjakan transaksi pada sejumlah saham yang tergabung dalam Grup Barito. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat nilai transaksi mencapai Rp8,6 triliun.

Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan transaksi Rp4,5 triliun, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp4,1 triliun. Transaksi besar juga terjadi pada saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp2,4 triliun, PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp2,2 triliun, serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) Rp656 miliar.

Baca Juga :  Indeks Bisnis-27 Dibuka Menguat, Saham TAPG, INKP, dan MIKA Pimpin Kenaikan

Selain saham Grup Barito, sejumlah emiten berkapitalisasi besar juga menjadi pusat perhatian investor. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat transaksi terbesar senilai Rp11,64 triliun, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp8 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp6,4 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp5 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) Rp4,8 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp3,6 triliun.

Saham Bank Menekan Kinerja IHSG

Berdasarkan data Refinitiv, mayoritas sektor di Bursa Efek Indonesia sebenarnya berhasil mencatatkan penguatan. Sektor infrastruktur, barang baku, dan teknologi menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sepanjang perdagangan.

Namun, sektor konsumer finansial dan properti mengalami tekanan paling besar sehingga membatasi laju penguatan indeks.

Pelemahan mendadak saham-saham perbankan pada akhir sesi menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah. Saham BBCA dan BBRI menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi penurunan masing-masing sekitar 25 poin dan 19 poin terhadap indeks.

Baca Juga :  Pasar Saham Indonesia Masih Murah, Investor Pilih Wait and See Meski Valuasi Menarik

Selain itu, saham TLKM, ASII, BBNI, dan BMRI juga turut memberikan tekanan signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Saham Konglomerat Bangkit Usai Tekanan MSCI dan FTSE

Di tengah tekanan pada sektor perbankan, saham-saham konglomerat justru menunjukkan performa impresif. Emiten yang sebelumnya tertekan setelah pengumuman rebalancing indeks MSCI dan FTSE kompak mengalami rebound tajam.

Saham BREN menjadi bintang perdagangan setelah melesat hingga menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) dengan kenaikan 25% ke level Rp3.300 per saham. Lonjakan tersebut memberikan kontribusi positif sebesar 24,35 poin terhadap IHSG.

Saham BRPT juga mencatat kenaikan maksimal atau ARA dan menyumbang sekitar 21,66 poin bagi indeks.

Selain BREN dan BRPT, sejumlah saham konglomerasi lainnya yang menopang pergerakan IHSG antara lain PTRO, AMMN, DSSA, CUAN, MORA, BUVA, CDIA, dan DNET.

Meski demikian, kuatnya tekanan dari saham-saham perbankan membuat penguatan emiten konglomerat belum mampu membawa IHSG bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan.(Pro)

Berita Terkait

BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya
Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas
MSCI Tetap Ancam Downgrade Saham RI, Pertemuan dengan Pemerintah Tak Ubah Sikap
IHSG Ambruk ke Bawah 6.000, Rupiah Melemah dan Evaluasi MSCI Bikin Investor Waspada
IHSG Mulai Bangkit! Cek 6 Saham yang Menarik Dicermati Investor
IHSG Berpeluang Bangkit pada Oktober 2026, Investor Perlu Cermati 4 Katalis
IHSG Ambruk 3,28% Sepekan, Investor Perlu Lirik SBR015, Reksa Dana hingga Emas
BEI Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Sektor Kesehatan Mendominasi
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 17:43 WIB

BEI Optimistis Indonesia Bertahan di Emerging Market MSCI, Ini Alasannya

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:23 WIB

Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:28 WIB

IHSG Ambruk ke Bawah 6.000, Rupiah Melemah dan Evaluasi MSCI Bikin Investor Waspada

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:42 WIB

IHSG Mulai Bangkit! Cek 6 Saham yang Menarik Dicermati Investor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:43 WIB

IHSG Berpeluang Bangkit pada Oktober 2026, Investor Perlu Cermati 4 Katalis

Berita Terbaru

Poto Ilustrasi Saham

INVESTASI

Saham DSSA Ambruk 82%, Begini Nasib Emiten Lain Grup Sinar Mas

Sabtu, 17 Okt 2026 - 13:23 WIB