Okepost.id, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Senin (12/10/2026).
Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot 2,59% ke level 5.936,15, sekaligus menembus batas psikologis 6.000.
Pelemahan ini terjadi setelah IHSG sempat menguat hingga level 6.129. Namun, tekanan jual yang meluas membuat indeks berbalik arah dan menutup perdagangan di zona merah.
Seluruh sektor saham melemah. Sektor energi dan industri mencatatkan tekanan terbesar, sementara saham-saham berkapitalisasi besar ikut membebani pergerakan indeks.
Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Pasar
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian investor adalah evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia.
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan transparansi kepemilikan saham, ketersediaan saham publik atau *free float*, serta kejelasan data yang menjadi dasar penghitungan indeks.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pemulihan kepercayaan investor membutuhkan perbaikan nyata.
Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan IHSG tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan sentimen MSCI tanpa bukti perkembangan terbaru.
Ia juga menegaskan bahwa MSCI merupakan penyedia indeks, bukan lembaga yang berwenang menjatuhkan denda kepada Indonesia.
Rupiah Melemah, Tekanan Pasar Bertambah
Pelemahan rupiah turut memperburuk sentimen pasar. Nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp17.913 per dolar AS pada Senin.
Investor juga mengantisipasi perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta rilis data inflasi Amerika Serikat pada 14 Oktober 2026. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, Kiwoom Sekuritas mencatat aksi jual bersih investor asing di pasar reguler telah mencapai sekitar Rp111 triliun sepanjang tahun berjalan hingga 9 Oktober 2026.
IHSG Berpotensi Menguji Level Support
Penembusan level 6.000 meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko koreksi lanjutan. Kiwoom Sekuritas memperkirakan area 5.850 dan 5.715 menjadi level support yang perlu dicermati.
Peluang pemulihan indeks akan bergantung pada meredanya tekanan jual dan munculnya penguatan yang lebih merata pada saham-saham di BEI. (Pro)









