Okepost.id – Harga Bitcoin, yang belum mampu menembus level psikologis 80 ribu dolar AS, dinilai menjadi indikasi bahwa pasar kripto masih berada dalam tekanan.
Per Senin pukul 12.34 WIB, harga Bitcoin tercatat turun 0,23 persen ke level 77.861 dolar AS.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur di Jakarta, Senin, menilai tekanan tersebut dipicu kombinasi faktor geopolitik, kondisi makroekonomi, serta dinamika pasar derivatif yang mempercepat koreksi harga, khususnya pada Bitcoin.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu pemicu utama melemahnya sentimen pasar.
Situasi ini turut dipengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang gencatan senjata, namun belum memberikan kejelasan arah hubungan kedua negara.
“Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat menyentuh level di atas 79 ribu dolar AS, harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 2 persen ke kisaran 78 ribu dolar AS,” ujar Fyqieh.
Ia menambahkan penurunan tersebut memicu likuidasi besar di pasar derivatif dengan total posisi mencapai sekitar 278 juta dolar AS.
Tekanan jual akibat likuidasi ini mempercepat penurunan harga dalam jangka pendek sekaligus menunjukkan rapuhnya momentum kenaikan sebelumnya.
Sejalan dengan pergerakan Bitcoin, sejumlah altcoin juga mengalami pelemahan.
Ethereum terkoreksi dari level tertinggi sepekan, sementara XRP bergerak terbatas di bawah level resistance.
Aset lain seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin turut mencatat penurunan seiring menurunnya minat risiko investor.
Di sisi lain, dominasi Bitcoin meningkat hingga sekitar 60 persen, menandakan adanya pergeseran alokasi dana ke aset yang dianggap lebih defensif.
Tekanan pasar juga datang dari ketidakpastian regulasi, khususnya di AS. Peluang pengesahan CLARITY Act pada 2026 dilaporkan menurun, mencerminkan masih adanya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan. Hal ini turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset digital secara keseluruhan.
Fyqieh menilai pelemahan pasar saat ini merupakan kondisi yang wajar di tengah kombinasi tekanan global dan dinamika internal industri kripto.
Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga tekanan teknikal seperti likuidasi besar di pasar derivatif serta aksi profit taking dari investor jangka pendek. Ini mengindikasikan pasar masih berada dalam fase konsolidasi,” kata dia.
Meski demikian, dirinya memandang fondasi pasar kripto secara keseluruhan masih cukup solid di tengah tekanan jangka pendek.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis 75 ribu dolar AS, peluang pemulihan masih terbuka. Namun, investor perlu mencermati faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas,” katanya.
Untuk menjaga momentum, Bitcoin dinilai perlu menunjukkan kekuatan yang lebih konsisten, terutama dengan bertahan di area kunci 78 ribu dolar AS hingga 83 ribu dolar AS. Selain itu, tren kenaikan berkelanjutan membutuhkan dukungan likuiditas kuat, permintaan pasar spot yang stabil, serta partisipasi investor ritel dan pergerakan altcoin.
Tanpa dukungan tersebut, kenaikan harga berpotensi bersifat sementara dan rentan terhadap koreksi.
Adapun dalam waktu dekat, pasar juga mencermati agenda Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 April sebagai katalis penting yang dapat memengaruhi arah pergerakan aset kripto, terutama jika kebijakan yang diambil cenderung lebih ketat.
Selain itu, tekanan dari sisi suplai juga masih membayangi, di mana aktivitas penjualan Bitcoin oleh penambang (miner) yang relatif tinggi berpotensi menahan kenaikan harga apabila tidak diimbangi peningkatan permintaan baru. (*)









